Meraih Ampunan Dengan Istighfar

Permasalahan

Saya adalah seorang remaja yang sering melakukan perbuatan maksiat dan dosa. Apakah orang yang mempunyai dosa lalu beristighfar akan mendapatkan pengampunan dari Allah SWT?

Joni, Jogjakarta

08112245xxx

Pembahasan

Manusia hidup di dunia ini tidak bisa luput dari kesalahan. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan meski sekecil apa pun. Namun perbuatan salah itu tidak boleh   diulang-ulang sehingga menumpuk menjadi besar, tapi harus dihentikan dan diganti dengan perbuatan yang benar. Ada pun salah satu cara menutupi kesalahan adalah  beristighfar  (meminta ampun kepada Allah SWT). Dalam beberapa firman-Nya Allah SWT memerintahkan kaum muslimin untuk beristighfar  kepada-Nya atas kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat. Dalam sebuah hadist qudsi  disebutkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  قاَلَ اللهُ تَباَرَكَ وَتَعَالىَ :  ياَ عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهاَرِ ، وَأنَاَ أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً فَاسْتَغْفِرُونيِ أَغْفِرْ لَكُمْ

Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah berfirman: ”Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kamu membuat kesalahan pada waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya, maka memohon ampunlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu.”

Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa yang telah kita perbuat bila kita memohon ampun (istighfar) kepada-Nya. Sebesar dan seberat apa pun  kesalahan  yang telah kita perbuat, bila kita benar-benar menyesal atas kesalahan itu dan berniat sungguh-sungguh bertaubat kepada-Nya serta memohon ampun kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuninya.

Beristighfar kepada Allah hendaknya kita lakukan setiap hari, bukan hanya ketika kita  melakukan kesalahan atau berbuat dosa. Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa hampir setiap saat kita berbuat salah dan dosa. Untuk itu lazimkanlah beristighfar kepada Allah SWT. Rasulullah SAW sendiri setiap harinya beristighfar 73 kali atau 100 kali. Padahal, beliau adalah nabi yang ma’sum dan tidak pernah melakukan perbuatan dosa. Kita yang setiap harinya berbuat dosa, kadang-kadang malas untuk beristighfar.

Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْباً ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّرُ ثُمَّ يُصَلىِّ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ إِلاَّغُفِرَ لَهُ ، ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْفَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ 

 ”Tidak ada satu pun seorang hamba yang berbuat suatu dosa, kemudian berdiri untuk mengambil air wudlu, kemudian melakukan sholat dan beristighfar untuk meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuni dosanya. Kemudian Rasulullah SAW membaca surat Ali Imran ayat 135 yang artinya : “ Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”

 Orang yang bertaqwa bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa sama sekali, akan tetapi orang yang setelah melakukan kesalahan segera beristighfar, mengakui kesalahannya serta memohon ampunan dari Allah SWT. Ada pun salah satu cara untuk bertaubat dari dosa-dosa yang pernah dilakukan adalah dengan berwudlu, kemudian melakukan salat (salat taubah). Setelah salat kemudian beristighfar memohon ampun kepada Allah SWT.

Sesungguhnya dosa akibat perbuatan maksiat yang telah kita perbuat bagaikan penyakit dalam tubuh. Terkadang memberatkan, mengganggu gerakan, memperlambat kecepatan, memandulkan kecakapan, memusingkan kepala, membuat nyeri perut, membuat pegal di badan, membuyarkan konsentrasi, menghilangkan nafsu makan dan minum serta mengganggu tidur. Satu-satunya obat untuk menyembuhkan semua penyakit itu hanyalah dengan memohon ampun kepada Allah SWT.

Allah niscaya akan mengangkat derajat orang yang selalu beristighfar baik di dunia dan di akherat. Derajatnya menjadi tinggi di dunia karena orang yang selalu beristighfar akan selalu berhati-hati dalam berbuat. Manakala ia terjatuh ke dalam suatu kesalahan atau pun dosa, maka dengan cepat ia mengingat Allah SWT dan memohon ampun kepada-Nya. Dengan demikian noda yang telah mencemari hatinya akan segera hilang karena telah dibersihkan dengan istiqhfar. Sebaliknya bila perbuatan dosa atau maksiat itu diabaikan tanpa memohon ampun kepada Allah, niscaya noda-noda hitam di dalam hati akan semakin membesar.

Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda :

إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ 

” كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “


”Sesungguhnya seorang hamba jika ia melakukan kesalahan, maka akan tercemari hatinya dengan satu bercak hitam. Jika ia menghentikan kesalahannya dan beristighfar ( memohon ampun ) serta bertaubat, maka hatinya menjadi bersih lagi. Jika ia melakukan kesalahan lagi dan menambahnya maka hatinya lama-kelamaan akan menjadi hitam pekat. Inilah maksud dari ‘ al-Raan ‘ ( penutup hati ) yang disebut Allah dalam firman-Nya :Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.(Qs Al Muthoffifin : 14 )

Orang-orang yang sering meremehkan perbuatan dosa baik dosa kecil dan terlebih lagi dosa besar serta tidak mau beristighfar, hati mereka akan menjadi hitam dan keras, bahkan lebih keras dari batu. Sulit bagi mereka untuk menerima nasehat dan peringatan. Hati mereka  tidak bergetar sedikit pun ketika dibacakan ayat-ayat Allah, tidak pernah menangis karena takut akan dosa-dosa yang dilakukan, dan tidak takut terhadap adzab Allah. Orang seperti ini tidak pernah merasakan nikmatnya keimanan, tidak pernah merasakan lezatnya bermunajat kepada Allah SWT, bersimpuh di depan-Nya mengharap rahmat-NYa dan takut dengan adzab dan siksaan-Nya. Orang-orang seperti mereka akan merasa berat jika diajak untuk melakukan ibadah, hidup mereka tidak pernah tenang dan tentram karena tidak pernah mengingat Allah SWT.

 Suatu ketika Rasulullah SAW kedatangan seorang yang tiba-tiba berkata kepada beliau dengan wajah yang sangat sedih sekali: “Ya Rasulullah, saya telah melakukan dosa yang sangat besar sekali. Apakah Allah berkenan mengampuni dosaku?”  “Allah pasti mengampuni dosamu,” jawab Nabi SAW. “Tapi dosaku sangat besar ya Rasul?” sambung orang itu. “Apakah dosamu sebesar gunung, seluas lautan atau seluas Arsy Allah SWT?” tanya nabi. Orang itu pun menjawab, ”Aku yakin dosaku lebih besar dari semua itu.” “Lalu apa dosamu itu?” tanya nabi. ”Aku sering mencuri kain kafan orang yang baru meninggal. Pada suatu malam, aku mencuri kain kafan seorang mayat perempuan. Ketika kubuka kain kafannya, ternyata si mayat adalah seorang perempuan cantik. Aku tergoda hingga akhirnya aku menggauli mayat itu. Itulah dosaku ya Rasul.”

Mendengar penuturannya Nabi SAW diam dan berkata, ”Aku tidak tahu dosamu akan diampuni atau tidak.” Orang itu pun kemudian berlari dan menjerit-jerit menyesali perbuatan dosanya. Pada saat itulah Allah kemudian mengingatkan nabi, ”Apakah kamu yang memberi pengampunan? Ketahuilah sesungguhnya Aku telah mengampuni dosa orang itu karena taubat dan penyesalan terhadap dosanya.” Sesaat kemudian Nabi SAW menyuruh salah satu sahabatnya untuk memanggil kembali orang itu dan memberi kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya. Betapa bahagianya orang itu mendengar kabar gembira atas diterimanya penyesalan dan taubatnya. Tak lama setelah berada dalam suasana  bahagia itu, orang ini pun meninggal dunia.

Seandainya kita dapati seorang anak yang berbuat salah dan melanggar perintah orang tuanya, kemudian anak ini datang kepada orang tuanya seraya mengakui dosa dan kesalahan yang telah ia perbuat dan meminta maaf, maka orang tua yang baik akan memaafkan kesalahan ini. Penyesalan dan kejujuran si anak bahkan akan membuat orang tuanya menjadi lebih sayang kepadanya. Begitu pula Allah SWT terhadap hamba-hambanya. Ketika seorang yang berbuat dosa sadar akan perbuatan yang dilakukannya, kemudian dengan sungguh-sungguh bertaubat dan memohon ampun, tentu Allah Yang Maha Pengampun akan mengampuni dosa itu…! ***

Dikutip dari majalah Cahaya Nabawi edisi 92.

Be the first to comment on "Meraih Ampunan Dengan Istighfar"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*