Memadukan Keinginan Orang Tua dan Anak

Memadukan Keinginan Orang Tua dan Anak

Bapak Agus yang kami hormati, saya memiliki anak perempuan usia 13 tahun. Setelah lulus Sekolah Dasar (SD) tahun kemarin, dia ingin masuk ke pondok. Saya merasa senang sekali, karena itulah yang saya dan istri harapkan. Namun setelah berada di pondok 3 bulan, dia nggak kerasan. Saya sudah merayu agar dia bersabar dan betah di pondok, tapi dia bersikukuh untuk keluar dari pondok. Saya dan istri bingung, karena kami sangat ingin sekali anak berada di pondok, mengingat lingkungan di luar zaman sekarang yang makin nggak karu-karuan. Menurut Pak Agus, kami harus bagaimana menghadapi anak yang demikian? Apa saya harus memaksa dia, atau bagaimana? Atas jawabannya kami ucapkan terima kasih. Semoga Allah SWT memberi kesehatan dan kemudahan bagi Bapak Agus. Amin…

Sunardi, Ponorogo.

Menghadapi Anak Suka Menentang

Bapak Agus yang terhormat, saya seorang ibu dari dua anak. Usia saya 45 tahun. Anak saya yang pertama laki-laki berusia 17 tahun, sedang anak kedua perempuan berusia 12 tahun. Bapak Agus, saya memiliki masalah yang harus saya tanyakan, terkait anak saya yang pertama. Dia istilahnya sering menentang perintah saya dan bapaknya. Setiap menginginkan sesuatu, harus dituruti. Misalnya menginginkan HP terbaru, atau komputer, dan sebagainya. Saya tidak tahu, mungkin ia terpengaruh teman-temannya di sekolah yang ingin mengikuti tren atau mode. Kalau kami jawab, “Iya, sabar, nanti saya belikan”, dia tidak mau tahu. Padahal kami harus mengatur pengeluaran keluarga diukur dari pemasukan suami. Apa yang harus kami lakukan untuk menjelaskan kepada anak? Bagaimana tips-tips agar ia menjadi anak yang taat, nurut sama orang tua, memahami kondisi orang tua, tidak hanya mengikuti tren anak muda zaman sekarang yang belum tentu baik? Atas jawabannya saya sampaikan terima kasih, demikian pula kepada redaksi Cahaya Nabawiy yang sudi memuat pertanyaan saya ini. Jazakumullah khairan.

Ummu Muhammad, Banjarmasin.

Memadukan Dua Keinginan yang Berbeda

Alhamdulillah, wa syukru lillah wa la haula wala quata illa billah.

Dalam edisi ini, saya patut bersyukur mendapat kesempatan yang kesekian kalinya untuk “curah pendapat” dengan para pembaca yang budiman. Terlebih untuk Bapak Sunardi di Ponorogo dan Ibu Ummu Muhammad di Banjarmasin, yang berkenan mencurahkan keluh kesahnya kepada kami. Mudah-mudahan Allah selalu memberikan kemudahan pada kita semua.

Memang segala sesuatu yang terjadi pada diri kita itu ada hikmahnya, sedang hikmah tersebut tidak akan berdaya guna kalau kita tidak mampu mengambil dan menerimanya secara utuh. Untuk itu, saya mencoba mencari tahu hikmah apa yang terkandung dari dua paparan di atas. Menurut saya, ada tiga poin yang perlu disampaikan, yaitu;

Pertama, masalah?

Antara keinginan dan harapan sering kali menjadi pemicu sebuah ”masalah”. Bagaimana kita menyikapi dua hal yang berbeda tersebut, antara keinginan dan harapan? Sebelum menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kita merenungkan empat ungkapan berikut;

Tidak semua yang berbeda itu jelek

Tidak semua yang sama itu baik

Tidak semua yang sama itu mesti diharapkan

Tidak semua yang berbeda itu kita inginkan.

Saat anak berkeinginan mendapatkan keinginannya misalnya berupa HP terbaru  atau laptop tercanggih. Dia dengan serta mertanya memaksa tanpa memperdulikan kondisi orang tuanya. Kondisi seperti ini, bagi anak, menjadi sebuah “masalah”.  Demikian juga bagi orang tuanya, yakni saat orang tua tidak berkenan memenuhi keinginan anaknya, tentu hal itu juga menjadi “masalah”. Kondisi ini juga terjadi pada anak yang pada mulanya berkeinginan masuk di pesantren, tetapi setelah berada di pesantren tiga bulan, dia tidak kerasan dan memaksa untuk pulang. Kondisi seperti ini menjadi “masalah” bagi anak dan orang tua. Antara harapan orang tua dan anak, sementara ini, berseberangan. Selanjutnya, bagaimana cara kita menyikapi “masalah” tersebut?

Bapak Sunardi dan Ummu Muhammad yang terhormat,  sebenarnya “masalah” yang terjadi pada anak-anak kita adalah sama. Namun yang membedakan, bagaimana konteks situasi terjadinya masalah tersebut? Dengan demikian, sebaiknya  kita sama-sama mempelajari bagaimana situasi dan konteks yang terjadi sebelumnya.

Kedua, bagaimana keluar dari masalah ?

Untuk Bapak Sunardi yang terhormat, saya salut terhadap tindakan Bapak untuk membujuk dan merayu anak Bapak agar dapat kembali betah berada di pondok. Cara seperti ini akan lebih efektif bila Bapak juga memberikan penjelasan tujuan dan keinginan anak yang dulu pada waktu awal masuk ke pesantren. Selanjutnya, Bapak dapat memberikan beberapa tawaran kegiatan yang menyebabkan anak tidak terlalu bosan dan kerasan. Di antara kegiatan yang dapat Bapak sarankan adalah aktifitas yang dapat mendukung diri anak sebagai bentuk ekpresi dan kreatifitasnya, hobi, dan kebiasaannya. Misalnya menjahit, berolah raga, bermusik seni islami, membaca buku cerita, majalah, menggambar, dan sebagainya. Dengan demikian, anak yang pada asalnya hanya memikirkan “pulang”, “boyong”, ataupun “kangen”, akan sedikit demi sedikit terkurangi.

Sedang untuk Ummu Muhammad yang terhormat, saya harus mengakui  bahwa ibu adalah orang yang sabar dan sangat sayang kepada anak-anaknya, terlebih anak pertama, Muhammad, yang sekarang kita “pelajari” bersama karakternya. Ibu, selalu mengalah kepada anak, memang tidak semuanya baik dan tidak semuanya buruk. Ada kesan seperti itu pada paparan cerita Ibu, dan memang nampaknya Ibu selalu memberikan kesempatan kepada anak ibu untuk mendapatkan keinginannya. Kondisi ini yang sebenarnya membentuk sikap anak selalu “mau minta dituruti”. Oleh karena itu, sebaiknya ibu mulai sekarang mencoba untuk memberikan kesan positif pada anak Ibu dengan membangun sebuah kesepakatan “bila anak mau dituruti keinginannya, andapun sebagai orang tua juga demikian….” Dalam kondisi ini, ibu agak harus berhati-hati, karena saat ini Muhammad sudah tidak kecil lagi. Tentunya dia mampu dan mau diajak untuk berbagi.

Bagaimana kalau cara yang Bapak dan Ibu berdua tempuh belum berhasil juga? Memang terkadang kita harus mempergunakan jurus pamungkasnya, yaitu “memaksa”.  Memaksa di sini berbeda dengan istilah memaksa yang kasar yang tidak memperdulikan kondisi anak. Tetapi memaksa dengan cara yang lebih elegan, nyaman dan aman, yaitu: misalnya untuk Bapak Sunardi, anak dipaksa untuk mempelajari bagaimana cara bergaul dengan teman-temannya yang sudah kerasan, untuk memudahkan dia dalam beradaptasi diri.

Sedangkan untuk Ummu Muhammad, sebaiknya Ibu mencoba dengan membuat komitmen bersama kapan Ibu harus memenuhi keinginan anak dan kapan tidak harus memenuhinya. Karena pada dasarnya, anak akan selalu menuntut apapun yang terus berkembang dan mengikuti tren, sedangkan Ibu hanya dituntut untuk memenuhinya saja. Kondisi ini tidak bagus, dan tidak dapat dibiarkan, karena ada kemungkinan cara ini akan diikuti oleh adiknya. Bahkan yang dikhawatirkan, akan menjadi kebiasaannya sampai dewasa. Dengan demikian, anak akan merasakan tidak dipaksa lagi untuk dapat belajar menekan diri menuruti keinginannya sendiri, tetapi juga keinginan orang lain, termasuk orang tuanya.

Ketiga, antara keinginan anak dan harapan orang tua.

Dalam Burdah karya Imam al-Bushiri dijelaskan bahwa keinginan itu ibarat “nafsu”, seperti anak kecil yang akan terus dan terus tumbuh. Alangkah baik dan indahnya bila keinginan kita benar-benar tumbuh berkembang sesuai dengan harapan kita semua, anak-anak kita, orang tua kita. Kasih sayang dan kebersamaan akan selalu menjadi pemicu kita dalam memadukan keinginan yang berbeda. Akhirnya, kitapun selalu berdoa kepada Allah SWT, agar kita dan anak-anak kita diberi petunjuk untuk selalu diridlai Allah SWT dalam segala keinginan, harapan dan kenyataan. Amin..

(TOLONG BIKINKAN BOX)

Tips –tips dalam membimbing anak    

Setelah mencermati paparan di atas, penulis menyimpulkannya sebagaimana berikut:

  1. Berilah dukungan padaanak, saat dia memiliki keinginan yang positif. Jangan biarkan dia sendirian saat dia merasakan kebingungan, karenaterkadang dia belum mampu memperkirakan apa yang akan terjadi. Untuk itu, diperlukan peran orang dewasa untukmemberitahukannya.
  2. Saat anak memilikikeinginan yang berada di luar kemampuan anda, sebaiknya anda bersegeramemberikan pengertian yang sesuai dengan tingkat pemahamannya. Anda tidak perlumemaksakan diri untuk memenuhi keinginannya, padahal anda tidak berkeinginananmemenuhinya. Oleh karena itu, usahakan membangun kepercayaan dan komitmen padaanak sedini mungkin.
  3. Bila anda harusmempergunakan jurus pamungkas “memaksa”, maka usahakan agar anak dapat merasalebih  aman, nyaman dan terbuka. Dengandemikian, anak akan merasakan dapat belajar secara mandiri dalam menerimakenyataan yang ada. ***

Dikutip dari majalah Cahaya Nabawi edisi 92.

Be the first to comment on "Memadukan Keinginan Orang Tua dan Anak"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*