Belajar Dari Perumpamaan

Suatu saat, datang seorang kepada Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib ra. dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, aku baru saja membeli sebuah rumah dan aku ingin engkau menuliskan akte jual belinya.”

Sekilas Imam Ali melihat wajah orang ini. Dengan pandangan batin, beliau melihat bahwa dunia telah merasuki singgasana hati orang ini.

Untuk itulah, beliau ingin memberi pelajaran yang membuat ia ingat kepada Allah. Beliau mengambil pena dan mulai menulis:

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, amm ba`du: Seorang calon mayat telah membeli sebuah rumah dari seorang calon mayat. Rumah tersebut berada di tanah tempat orang-orang yang sering melakukan dosa dan berada di ruang orang-orang yang lalai. Rumah itu memiliki empat tapal batas. Pertama, ujung kepada kematian. Kedua, ujung kepada kuburan. Ketiga, ujung kepada perhitungan (hisab). Keempat,  ujung menuju surga atau neraka.”

***

Demikian indah perumpaan Imam Ali tentang orang yang gandrung dunia. Perumpaan merupakan salah satu metode dakwah Nabi SAW dalam mengajarkan Islam dan kebenarannya tanpa menyinggung secara langsung. Imam Ali dengan lihainya telah menggunakan metode dakwah nabi ini secara sempurna.

Dengan menggunakan perumpamaan, Imam Ali mengajarkan filosofi hidup sederhana dengan mengantarkan pendengarnya untuk mengenal perusak segala nikmat yaitu kematian.

Suatu kali, seorang datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan, Allah dan manusia akan mencintaiku.”

Rasul kemudian bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia.” (HR. Ibnu Majah)

Sehubungan dengan kesederhanaan Rasul, diceritakan bahwa pernah Jibril datang membawa pesan Allah kepada beliau. Pesan tersebut berisi tawaran kepada Rasul untuk menjadikan gunung dimana Rasul berada berubah menjadi emas. Mendengar tawaran ini Rasul diam kemudian berkata: “Hai Jibril, apalah arti dunia bagiku, ia hanya tempat bagi yang tidak mempunyai tempat, harta bagi orang yang tiada berharta. Banyak orang yang tidak berakal berlomba-lomba mengumpulkannya. Biarlah aku kenyang sehari sehingga aku bisa bersyukur dan lapar sehari agar aku bersabar.”

Kepada umatnya, Nabi berpesan dengan sungguh-sungguh, “Saya tidak khawatir kalian akan murtad sepeninggalku. Yang saya takutkan, ketika Allah membuka perbendaharaan harta kekaisaran Romawi dan Persi bagi kalian, kalian akan saling berebut dan berlomba-lomba mengumpulkannya.”

Kesederhanaan hidup atau zuhud tidak berarti membenci kekayaan dan mematikan etos kerja. Banyak di antara sahabat Nabi yang menjadi pedagang sukses. Tapi kekayaan harta yang dimiliki tak mengalahkan besarnya kepedulian sosial mereka.

Bila untuk keperluan jihad Sayyidina Umar bin Khathtab menyerahkan setengah hartanya, maka Sayyidina Abu Bakar menyerahkan semua yang dimilikinya. Ketika Nabi bertanya apa yang dia sisakan untuk keluarganya, Sayyidina Abu Bakar menjawab dengan mantap, “Cukuplah Allah dan Rasul-Nya buat kami.”

Sayidina Utsman bin Affan tidak mau juga ketinggalan. Diriwayatkan bahwa beliau pernah menyumbangkan seribu unta dan tujuh puluh kuda untuk persiapan perang Tabuk.

Ketika Rasul sampai di kota Madinah dalam rangka hijrah, terjadilah krisis air tawar. Air sulit diperoleh kecuali yang ada di sumur Raumah. Menghadapi situasi demikian, Utsman dengan kekayaannya yang melimpah ruah membeli sumur itu seharga tiga puluh lima ribu dirham dan kemudian mewakafkannya. Keseimbangan adalah kata kunci menakar diri dalam mengisi kebaikan di dunia untuk akhirat: Fiddun-ya hasanah wa fil akhirati hasanah. Manusia yang hanya menikmati dunia, akan mati menderita. Mereka yang mementingkan jasmani akan mati nurani. Orang-orang yang mementingkan akal dan melalaikan hati akan gelap mata. Ada pun mereka yang tidak menggunakan akal akan kehilangan kecerdasan. Sementara itu, yang hanya tertawa di dunia akan tersedu di akhirat kelak. Ingatlah pula bahwa yang tidak pernah tertawa di dunia akan kehilangan teman. Hidup ini perlu keseimbangan namun akhirat harus senantiasa diutamakan…..! Ali Akbar***

Dikutip dari majalah Cahaya Nabawi edisi 92.

Be the first to comment on "Belajar Dari Perumpamaan"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*