1487446815

Jatuh Bangun Habib Idrus Merintis Al-Khairat

Posted by

Al Khairat merupakan Lembaga Pendidikan Islam/pesantren yang terletak di daerah Sulawesi Tengah atau tepatnya di kota Palu. Bagi masyarakat di kawasan indonesia bagian timur sudah sangat dikenal, bahkan saking terkenalnya mayoritas muslim Palu tak sungkan-sungkan menyatakan dirinya  bagian dari keluarga besar Al Khairaat, walaupun mereka hanya alumnus Ibtidaiyah sekalipun.

Dimulai dari kedatangan seorang Ulama dari negeri Yaman, Habib Idrus bin Salim Al-Jufri yang juga merupakan seorang mufti dari Hadramaut. Beliau datang ke Palu atas petunjuk gurunya yang menetap di Pekalongan. Gurunya adalah seorang alim ulama dan salah satu wali Allah yang mengajar juga,  yang bernama Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas. Sejak kedatangannya di kota Palu Habib Idrus pertama kali merintis pesantren ini dengan mengajar ilmu agama Islam kepada penduduk Palu. Atas kegigihan usahanya dengan dibantu para muridnya dan masyarakat setempat, dibangunlah sebuah madrasah/pesantren yang diberi nama  Al Khairat. Yang kemudian secara resmi Al Khairat didirikan pada tanggal 30 Juni 1930 Masehi bersamaan dengan 14 Muharram 1349 Hijriah.

Dengan berdirinya Pesantren Al Khairat ini banyak murid/santri yang belajar disini. Murid-murid beliau yang belajar agama Islam itu bukan saja berasal dari Palu, tetapi berdatangan dari daerah sekitar Palu. Seiring dengan pesatnya perjalanan pesantren ini, maka mulai ramailah murid-murid yang belajar agama Islam dari berbagai luar daerah, seperti daerah Poso, Banggae, Gorontalo, Toli-Toli, bahkan dari ternate yang terletak diluar Sulawesi. Mereka mempunyai tujuan bahwa dengan belajar di pesantren ini kelak mereka akan menyiarkan Agama Islam. Sehingga Habib Idrus menganjurkan kepada murid-muridnya untuk mendirikan cabang madrasah Al Khairat di daerah asal mereka masing-masing, tentunya setelah memperoleh ilmu agama yang cukup dan memadai dari beliau.

Maka bermunculanlah cabang-cabang madrasah/pesantren Al Khairat di daerah Poso, Banggae, Gorontalo, Toli-Toli, , ternate dan lain-lain daerah. Diceritakan bahwa dalam mengajar ilmu agama di madrasahnya Habib Idrus menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar. Ini dilakoni untuk melatih muridnya agar menguasai bahasa Arab, yang menurut beliau sangat penting agar dapat membaca buku-buku yang dapat dipergunakan untuk menambah ilmu dalam rangka memperdalam ilmu agama Islam.

Jika kita melihat liku-liku perjalanan pesantren ini tidak lepas dari aral melintang, namun semuanya dapat dilalui dengan kesabaran dan perjuangan. Awal keberadaan Al Khairat sempat dilarang Pemerintah Belanda karena ajaran Habib Idrus , khususnya yang bersumber dari kitab Idzatun Nasyiin, karya Musthafa Al Ghalayani. Kitab ini dianggap berbahaya karena dapat membangkitkan semangat juang rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah. Perlakuan seperti ini masih juga tetap terjadi di Pemerintah Jepang ketika itu.

Meskipun dilarang Habib Idrus tak pernah patah semangat. Ia terus bergerilya sambil mengajar. Dan selama berpindah-pindah tempat selama 15 tahun, Habib Idrus berhasil mendirikan 400 madrasah yang meliputi Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah dan Mualimmin (setingkat diploma).

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Al Khairat terus berkembang. Pada tanggal 21 Agustus 1956, Al Khairat yang juga menjadi lembaga sosial kemasyarakatan menyelenggarakan Muktamar besar pertama. Muktamar berhasil menetapkan 10 pasal anggaran dasar pondok. Setelah muktamar, Habib Idrus mulai mempercayakan pengelolaan pendidikan kepada sejumlah santri yang lulus terbaik sampai 1964, yang juga pada tahun itu diadakan muktamar II.

Pada masa G30 S/PKI, beberapa kegiatan Al Khairat terpaksa tutup, para santri banyak yang turut membantu rakyat memerangi PKI. Pada tahun 1969 cucu Habib Idrus, Habib Seggaf Al Jufri, kembali membuka madrasah dan kampus-kampus milik Al Khairat, sekaligus memegang kendali Al Khairat, karena betepatan pada tanggal 22 Desember 1969 Habib Idrus meninggalkan kita semua menghadap Sang Kholiq. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Dalam genggaman tangan Habib Seggaf, Al Khairat terus mekar hingga memiliki ratusan cabang di berbagai daerah. Dan posisi Al Khairat pun makin kuat di kawasan Indonesia Timur. Kini Al Khairaat  dikelolah anak cucunya; Muhammad Al Jufri dan dua anaknya, Saggaf dan Abdillah Al Jufri. Al Khairaat memiliki lahan kawasan pendidikan puluhan hektar, serta lahan pertanian sekitar 500 hektar. Sekarang diperkirakan cabang-cabang madrasah Al Khairat berjumlah 556 buah yang tersebar meliputi 7 Propinsi/daerah Tingkat I di Indonesia.

sumber majalah Cahaya Nabawiy

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *