299620_225708014161770_742989529_n

Muslimah Berjilbab Makin Menjamur Di inggris

Posted by

Lebih dari 100.000 wanita Inggris kulit putih berusia rata-rata 27 tahun memilih menjadi muslim. Angka tersebut adalah dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir.  Ditengarai bahwa usia rata-rata 27 tahun ini yang tertarik memeluk Islam disebabkan karena bosannya para non-muslim dengan konsumerisme dan imoralitas yang makin dominan di Eropa. Koran terkemuka Inggris, Daily, dalam laporannya yang ditulis Jack Doyle menyebutkan terjadi gelombang peningkatan pada wanita kulit putih muda mengadopsi agama Islam. Tahun lalu tercatat sekitar 5.200 orang di Inggris memilih Islam, diantaranya adalah adik ipar mantan PM Inggris Tony Blair.

Tahun lalu Lauren Booth, saudara ipar mantan Perdana Menteri Tony Blair, menarik perhatian luas ketika ia mengumumkan bahwa ia telah masuk Islam. Pengamat masalah Islam di Inggris, Hakimul Ikhwan, S.Sos, MA kepada koresponden Antara di London, menyebutkan fenomena bertambahnya jumlah muslim di Inggris terutama White British ke Islam tidak bisa dilepaskan dari tingginya intensitas dan masifnya publikasi mengenai Islam.

Menurut dosen Universitas Gajah Mada yang sedang mengambil Phd di Essex University, jumlah masyarakat muslim sejak beberapa dekade terakhir semakin meningkat secara signifikan. Hakimul Ikhwan justru heran melihat alasan sebagian muallaf wanita yang menyatakan tertarik kepada Islam karena “membebaskan” mereka dari konsumerisme dan imoralitas dengan penggunaan burqah, jilbab, kerudung dan busana muslimah sejenisnya.

Lagi-lagi berbasis spirit demokrasi dan individualitas, wanita berbusana muslimah banyak ditemui di berbagai kota di Inggris. Para imigran bisa dengan bebas berbusana muslimah. Kondisi ini menyajikan “cermin” bagi wanita Inggris menjawab problem konsumerisme dan kebiasaan pesta di kalangan muda Inggris, ujar sarjana sosiologi UGM Yogjakarta.

Hakimul menjelaskan pertanyaan mengapa Islam yang cenderung tampil dengan wajah negatif (radikal destruktif) justru diminati atau menarik “White British” untuk pindah ke Islam ? Menurut dosen yang sedang melakukan riset S3 mengenai Islamifikasi di Inggris dan Barat ini, fenomena menggembirakan itu bisa disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, prinsip-prinsip Barat yang menekankan pada kreativitas dan kebebasan berfikir individu memungkinkan individu-individu di Inggris untuk mempelajari atau mengkaji lebih dalam mengenai Islam.

Informasi yang sangat luas mengenai Islam bisa didapat melalui internet. Selain itu, Islam dan masyarakat muslim menjadi topik kajian dan penelitian yang semakin diminati di perguruan tinggi. Ketika Islam dikaji oleh individu dalam kerangka akademik atau intelektual, maka sesuai dengan prinsip-prinsip keilmuan (scientific Barat) harus mengakses beragam sumber pemikiran (school of thoughts) dan mazhab yang beragam (pros and cons). Hal ini memungkinkan tampilnya kekayaan tafsir, hikmah (wisdom), dan humanity dalam Islam. Islam yang non-radikal, damai (peaceful), moderat dan pluralis semakin menarik perhatian masyarakat Barat, ujar salah satu pendiri MASIKA ICMI Yogyakarta, dan ketua Indonesian Moslem Association in Nottinghamshire-Leicestershire, UK ini .

Kecenderungan ketertarikan terhadap Islam yang anti kekerasan dan moderat bisa dilihat misalnya dalam wacana dialog multi agama (multi-faiths dialog) serta upaya untuk “mengarus-utamakan” (mainstreaming) Islam yang non-Timur Tengah. Dikatakannya dalam konteks ini, Indonesia menjadi primadona.

“Wajah Islam Indonesia yang moderat, toleran dan sadar gender, misalnya menjadi topik utama yang diangkat oleh mantan PM Tony Blair dan Presiden AS Barrack Obama dalam kunjungan mereka ke Indonesia,” lanjutnya.
Sebagai bagian dari masyarakat muslim, Indonesia memiliki kesempatan besar untuk menjadikan ekspresi Islam Indonesia sebagai “mainstream” atau alternatif dari ekspresi Islam Timur Tengah. Selain faktor publisitas dan discourse Islam yang menguat di tingkat global, faktor lain yang juga sangat menentukan meningkatnya muallaf ke Islam di kalangan White British adalah tingginya jumlah para imigran muslim di Inggris seperti dari Pakistan, Turki, Bangladesh, Timur Tengah, dan Asia seperti Indonesia dan Malaysia.

Banyaknya imigran muslim tersebut membuat simbol-simbol Islam tersebar luas dan dapat ditemui di berbagai penjuru kota. Misalnya, Butcher Halal atau halal meat, pizza halal, dan lain sebagainya. Istilah “halal” telah menjadi “ikon” publisitas yang sangat efektif tentang Islam. Penjualan daging halal di supermarket seperti Tesco, Asda, dan Sainsburry misalnya, membuat Menteri Pertanian Inggris harus menjelaskan kepada publik tentang pengertian daging halal atau halal meat. Dalam perkembangannya, halal meat tidak semata soal Islam, tetapi juga soal makanan yang sehat, ungkap Hakim. Alhamdulillah….  Anies Shahab

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *