habib-mundzir-dlm-perjalanan-ke-monokrawe

Ibadah Tanpa Disertai Keyakinan, Mungkinkah?

Posted by

oleh Syamsul Hari

Tak bisa dipungkiri lagi bahwa sesungguhnya yakin adalah pokok iman. Seluruh kedudukan mulia seperti kewalian, budi pekerti mulia dan amal-amal sholeh adalah buah dari sikap yakin. Ibarat pohon, yakin adalah akar. Akar itu kemudian bercabang  berupa budi pekerti dan amal-amal sholeh. Dalam kehidupannya, cabang-cabang itu bergantung sepenuhnya pada akar. Bila akar rusak, maka tak lama lagi cabang-cabang itu bakal mengering. Demikianlah keberadaan yakin di dalam hati manusia. Manakala yakin hidup subur di dalam hati, maka yang tumbuh dalam diri manusia adalah budi pekerti yang sehat dan indah. Karena itulah, sepatutnya kita memperhatikan keyakinan di dalam hati dengan sungguh-sungguh. Semakin kuat keyakinan seseorang, maka semakin bagus pula amal dan budi pekertinya. Sebaliknya, semakin lemah keyakinan seseorang, maka semakin buruk amal dan budi pekertinya. Ibarat jantung di dalam tubuh manusia. Sungguh tiada berarti fisik prima yang dipunyai seseorang bila tanpa disertai jantung yang sehat. Ia tak bakal kuat mengangkat beban yang berat dan rentan terhadap berbagai penyakit kronis lainnya.

Lukman Al-Hakim pernah berkata, “Sungguh mustahil suatu amal dikerjakan tanpa didasari sikap yakin. Seseorang beramal menurut kadar keyakinannya. Perbuatan sembrono sesungguhnya dilakukan karena kurangnya sikap yakin.” Tentu saja ucapan Lukman Al-Hakim ini bukanlah omongan kosong belaka. Ia adalah seorang yang berkedudukan tinggi. Ia pernah berguru kepada seribu nabi dan belakangan memiliki murid seribu nabi. Karena banyaknya kalimat-kalimat penuh hikmah yang diucapkannya, ia pun digelari Al-Hakim. Sebagai penghargaan, Allah SWT mengabadikan dirinya dalam satu surat Al-Quran.

Dalam sebuah hadits, Baginda Nabi SAW bersabda, “Yakin adalah iman secara keseluruhan.” Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa emas ada yang murni dan ada yang campuran. Emas murni berkadar seratus persen. Begitu pula dengan keimanan, ada yang murni dan ada yang bercampur dengan keraguan. Mengapa kita tidak berusaha memiliki iman murni berkadar seratus persen seperti halnya kita berusaha memiliki emas murni……?

disarikan dari pengajian Al-Hikam asuhan Habib Taufiq bin Abdulqadir as-Segaf

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *