14806631855841209129e58

Islamophobia Di Negeri Sendiri

Posted by

Sejak terbentuknya pemerintahan baru di Indonesia, beberapa masalah yang dihadapi negeri ini tampak semakin nyata. Bukan hanya permasalahan ekonomi dan politik, tetapi sudah memasuki ranah agama juga. Bagaimana tidak, berbagai aturan kebijakan dan wacana yang menyangkut agama telah diupayakan untuk diubah. Contohnya adalah wacana penghapusan kolom agama di KTP dan pemblokiran situs- situs Islam dengan berbagai alasan. Hal ini membuat umat Islam resah dan bertanya-tanya, apa yang menjadi penyebab begitu gencarnya pemerintah berupaya meminimalisir peran agama dalam kehidupan sosial masyarakat. Negara seolah ingin membentuk pemerintahan sekuler yang akan memisahkan wilayah agama sebagai ranah individu. Pemerintah tidak ada urusannya dengan keyakinan seseorang.

Tentu saja dalam hal ini umat Islam menjadi resah dan mempertanyakan tujuan pemerintah yang demikian ini. Berbagai reaksi pro kontra pun timbul. Bukan hanya di kalangan masyarakat, namun juga di kalangan wakil rakyat yang duduk di kursi DPR. Wakil Ketua Komisi I, Hanafi Rais, mengaku heran dengan kebijakan pemerintah memblokir situs-situs Islam. Pasalnya, Indonesia adalah negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia. Sudah seharusnya pemerintah melindungi umat Islam. Menurutnya, tidak ada regulasi yang mengatur pemblokiran tersebut dan pemerintah seharusnya menaatinya. Penutupan situs-situs Islam tidak berdasar dan menunjukkan ketakutan akan adanya informasi yang benar tentang Islam.

Islamophobia adalah ketakutan terhadap segala sesuatu tentang Islam. Saat ini, Islamophobia sangat “mewabah” di negara-negara Barat (Amerika dan Eropa). Pada kesempatan ini fokus akan dikerucutkan pada Islamophobia di Eropa. Perang Dunia II yang telah meluluh-lantakkan sebagian besar negara-negara di Eropa, memaksa bangsa-bangsa di Eropa “mengimpor” para pekerja dari luar untuk membangun kembali negara mereka yang telah hancur. Sebagian besar negara-negara di Eropa (khususnya negara Eropa Barat) “mengimpor” para pekerja dari negara-negara yang mayoritas penduduk dan budayanya berdasarkan ajaran Islam seperti Aljazair, Marokko, India, dan Turki. Para pekerja asing ini semakin hari semakin besar jumlahnya. Keberadaan para pekerja asing yang akhirnya berkeluarga dan mempunyai keturunan di Eropa, lama-kelamaan menimbulkan beberapa kendala terkait dengan kebiasaan dan kebudayaan masyarakat asli di Eropa tempat mereka bekerja. Dirasakan bahwa sebagian besar pekerja asing beserta keluarga mereka kurang bisa membaur dengan kebiasaan dan kebudayaan asli negara tempat mereka bekerja (mereka hidup berkelompok di wilayah-wilayah tertentu di lingkungan orang-orang dari asal negara yang sama). Tidak sedikit di antara mereka (antar pekerja pendatang yang berbeda asal negaranya) juga berselisih dalam kehidupan bermasyarakat di negara tempat mereka bekerja. Hal ini tidak jarang menyebabkan konflik di masyarakat yang berujung pada kerusuhan dan kekerasan. Kejadian-kejadian seperti ini memupuk stigma negatif terhadap Islam, yang lambat-laun berkembang menjadi ketakutan terhadap Islam atau yang lebih dikenal dengan istilah Islamophobia.

Islamophobia diperkuat dengan kejadian-kejadian teror yang menyita perhatian dunia, yang sebagian besar ditengarai dilakukan oleh kelompok Islam radikal dari negara-negara yang memiliki basis penganut Islam cukup besar di dunia. Misalnya tragedi WTC di Amerika, bom bunuh diri di Inggris, bom bunuh diri di Spanyol, pembunuhan terhadap sutradara Theo Van Gogh di Belanda oleh seorang Muslim, pembunuhan politikus Belanda Pim Fortuyn oleh seorang Belanda keturunan Marokko, dsb.

Bentuk-bentuk Islamophobia yang terjadi di Eropa antara lain adalah pelarangan pemakaian burka (cadar penutup muka) bagi Muslimah di Prancis, diskriminasi terhadap pelaksanaan ibadah umat Muslim (termasuk pendirian tempat ibadah umat Muslim, dsb.). Juga pemeriksaan extra ketat di setiap Imigrasi transportasi darat, laut, dan udara terhadap mereka yang beragama Islam, atau mereka yang berasal dari negara yang mayoritas penduduknya Muslim.

Ketakutan negara-negara Barat mungkin masih bisa dimaklumi karena keterbatasan informasi mereka tentang Islam. Mayoritas mereka non muslim sehingga mereka hanya melihat Islam dari satu sisi. Namun jika Islamophobia terjadi di sebuah negara yang mayoritas penduduknya menganut Islam, tentu ini akan menimbulkan pertanyaan besar. Apakah Indonesia akan dijadikan negara sekuler? Jika itu terjadi, maka pemerintah harus merubah Pancasila karena sila pertama dalam Pancasila adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Artinya, unsur ketuhanan atau keyakinan menjadi bagian yang penting dalam pembangunan bangsa.

Ketakutan yang lain adalah ketika ada seorang muslim yang membela agamanya dan berusaha menegakkan nahi mungkar, ia akan dicap sebagai orang konservatif, radikal dan intoleran. Bahkan sebagian orang berkomentar, untuk apa membela Tuhan? Tuhan kan Maha Kuasa dan tidak membutuhkan manusia untuk membelaNya? Tentu pendapat ini keliru karena dalam Islam, membela agama Allah adalah sebuah kewajiban bagi umat Islam. Firman Allah dalam Al Quran:

$pkš‰r’¯»tƒ z`ƒÏ%©!$# (#þqãZtB#uä bÎ) (#rçŽÝÇZs? ©!$# öNä.÷ŽÝÇZtƒ ôMÎm6s[ãƒur ö/ä3tB#y‰ø%r& ÇÐÈ

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad : 7)

Situasi yang terjadi tampaknya berbeda dengan pemeluk agama lain. Mereka dapat membela agama yang mereka anut sesuai keyakinan, tanpa mendapat sebutan radikal. Istilah teroris juga dikhususkan bagi umat Islam. Lihat saja bagaimana media membesar-besarkan keadaan kacau di wilayah Iraq, Syria dan Yaman. Mereka menganggap bahwa Islam adalah agama yang selalu identik dengan kekerasan dan pembunuhan. Anehnya, kita tidak pernah mendengar kata teroris untuk Israel yang jelas-jelas membantai rakyat dan merebut tanah rakyat Palestina. Justru mereka menyebutkan bahwa anak-anak Palestina adalah calon teroris yang akan membahayakan mereka. Contoh lain adalah ketika seorang co pilot berkebangsaan Jerman melakukan aksi bunuh diri dengan menabrakkan pesawat yang dipilotinya ke bebatuan cadas dan menewaskan ratusan orang. Dia tidak pernah disebut teroris.

Islamophobia pada akhirnya akan menimbulkan diskriminasi terhadap Islam. Semua yang berbau Islam dan syariatnya akan diminimalkan. Orang Islam yang menjadi mayoritas harus bertoleransi kepada agama lain. Sekali lagi, anehnya yang sebaliknya justru tidak terjadi. Di Bali misalnya, pemakaian busana muslim di sekolah-sekolah dilarang. Selain pelarangan kerudung yang dialami siswi, sikap intoleransi lainnya juga dialami Muslim Bali pada perayaan Hindu, Nyepi. Setiap orang yang tinggal di Bali wajib ikut aturan. Seorang Muslim yang tidak ikut aturan akan ditangkap. Seorang Muslim pernah berkomentar tentang hal ini, “Jika tidak ikut aturan, misalnya ada lampu atau api menyala di rumah saya, maka saya akan ditangkap dan dibawa ke Balai Desa. Kalau keluar rumah akan didenda,” terangnya.  Saat Nyepi, umat Islam juga dilarang untuk mengumandangkan adzan. Yang mereka tekankan adalah, umat Islam harus bertoleransi dan menghargai perayaan umat Hindu. Namun, kita tidak melihat yang sebaliknya juga terjadi.

Perlakuan diskriminatif terhadap nama Islam juga terjadi di Bandara Soekarno Hatta Indonesia. Penumpang dengan nama Islam seperti “Muhammad”  akan dipersulit untuk mendaftar Autogate. Kejadian ini dialami oleh Muhammad Edo ketika akan terbang ke Sydney Australia. Muhammad Edo pun menjadi gundah- gulana. Bagaimana tidak? Ternyata, di negeri berpenduduk mayoritas Muslim, nama Muhammad yang disandangnya berimbas pada perlakuan diskriminatif di Imigrasi. Gara-gara nama Muhammad itu, dia tak bisa mendaftar autogate di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten. Saat itu dia hendak pergi ke Sydney, Australia. Saat akan masuk pintu Imigrasi, dia mencoba untuk mendaftar autogate yang terletak di samping kanan. Dia pun bertanya kepada petugas Imigrasi yang berjaga di sana. Mengutip pemberitaan detik.com, petugas Imigrasi itu pun mengecek paspor Edo.
“Kata petugas Imigrasi itu, kalau ada nama Muhammad atau Ali tidak bisa,” terang Edo menceritakan pengalamannya. Jika demikian, berarti siapa pun orang yang punya nama Muhammad dan Ali harus melewati pintu dengan pemeriksaan manual yang dilakukan petugas Imigrasi dengan lebih ketat. Dengan istilah lain, penyandang nama Muhammad dan Ali dianggap harus lebih ketat diperiksa karena dianggap cenderung teroris.

Ketakutan terhadap Islam hanyalah akibat dari orang-orang yang tidak mengenal Islam dengan baik. Sebagai umat Islam, kita harus tetap berpegang teguh atas kebenaran yang kita yakini. Kita dapat menunjukkan sisi yang indah dan toleransi dalam Islam, namun kita harus tetap membela agama Allah yang semakin mengalami diskriminasi dibumi-Nya ini.

óOÏ%r’sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $Zÿ‹ÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏ‰ö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ

Artinya :Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS ARRum : 30 ). Fatimah Azzahra Alattas SE…(*)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *