wanita-bercadar

Seputar Hukum Zhihar

Posted by

Assalamu’alaikum Wr.Wb. Ustadz, saya bertengkar sama istri saya dan mengucapkan kata-kata: “Kamu itu seperti ibu kamu,” sampai dua kali. Apakah itu termasuk talak?

 

Abdullah

Pasuruan

03436674xxx

 

Mungkin yang anda maksudkan adalah zhihar bukan talak. Zhihar dalam bahasa Arab artinya punggung. Dalam hukum Islam yang dimaksud dengan zhihar adalah apabila suami mengatakan bahwa istrinya sama dengan ibunya atau dengan wanita yang haram dinikahi semenjak dia dilahirkan. Orang-orang dimaksud adalah ibunya, saudara kandungnya, istri ayahnya yang sudah dinikahi ayahnya sebelum dia lahir. Ini bukan menyerupai perempuan yang haram dinikahi tetapi tidak semenjak dia dilahirkan, seperti menantu perempuannya, ibu istri (mertua). Disebut zhihar karena ungkapan zhihar yang secara terang-terangan adalah apabila suami mengatakan: “Kamu bagiku seperti punggung ibuku.” Hukum suami melontarkan zhihar kepada istrinya adalah haram dan tergolong dosa besar. Allah SWT berfirman:

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ ۖ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ

  1. Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.
  2. Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. QS:  Al-Mujadilah: 1-2.

Sebab turunnya ayat ini berhubungan dengan persoalan seorang wanita bernama Khaulah binti Tsa´labah  RA yang telah dizhihar oleh suaminya Aus ibn Shamit RA, dengan mengatakan kepadanya: “Kamu bagiku seperti punggung ibuku,” dengan maksud dia tidak boleh lagi menggauli isterinya, sebagaimana ia tidak boleh menggauli ibunya. Menurut adat Jahiliah, kalimat Zhihar seperti itu sudah sama dengan mentalak isteri. Khaulah mengadukan hal itu kepada Rasulullah SAW.  Ia berkata: “Sesungguhnya Aus telah mengawini aku ketika aku masih muda dan dia mencintaiku. Pada saat aku sudah tua dan melahirkan beberapa anak, Aus melontarkan zhihar kepadaku.” Rasulullah SAW menjawab bahwa dalam hal ini belum ada keputusan dari Allah SWT. Pada riwayat yang lain Rasulullah SAW mengatakan: “Engkau telah diharamkan bersetubuh dengan dia.” Lalu Khaulah berkata: “Suamiku belum menyebutkan kata-kata talak.” Pada riwayat lain Khaulah berkata: “Sesungguhnya aku memiliki beberapa anak dari Aus. Jika mereka ikut Aus, mereka akan terlantar. Jika mereka ikut aku, mereka akan kelaparan.” Rasulullah SAW menjawab: “Aku tidak melihat yang lain kecuali kamu telah haram baginya.” Khaulah berkata: “Aku akan mengadu kepada Allah  SWT mengenai kemiskinanku dan kesulitanku.” Kemudian Khaulah berulang kali mendesak Rasulullah SAW supaya menetapkan suatu keputusan dalam hal ini, sehingga kemudian turunlah ayat ini.

 

Dalam hukum Islam, apabila suami melontarkan zhihar kepada istrinya, maka harus segera diikuti dengan mentalak istrinya. Jika tidak segera mentalak istrinya setelah lewat maktu yang cukup untuk menjatuhkan talak tersebut, maka suami harus membayar kafarah (denda) dengan memerdekakan budak. Jika tidak mampu, wajib berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu juga,  ia wajib bersedekah makanan pokok kepada enam puluh orang miskin, masing-masing satu mud (7ons).

Ketentuan ini berdasarkan firman Allah SWT:

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۚ ذَٰلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۖ فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ۚ ذَٰلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

 

  1. Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
  2. Barang siapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. QS:  Al-Mujadilah: 3-4

Ungkapan zhihar ada dua macam, secara terang (shorih) dan secara tidak terang (kinayah). Ungkapan yang shorih seperti perkataan suami: Kamu bagiku seperti punggung ibuku. Sedangkan yang tidak terang-terangan seperti perkataan suami: Kamu seperti ibuku. Dalam ungkapan zhihar secara terang (shorih) tidak dibutuhkan niat. Artinya, jika suami melontarkan zhihar dengan ungkapan yang terang, maka berlaku ketentuan hukum zhihar, meski pun suami tidak bermaksud menyumpahi istrinya. Berbeda dengan ungkapan zhihar yang tidak terang, maka tidak berlaku hukum zhihar kecuali jika disertai niat ungkapan zhihar.

Dengan demikian, perkataan anda kepada istri anda “kamu seperti ibu kamu” bukan tergolong zhihar, karena anda menyamakan dia dengan ibu mertua, bukan dengan ibu anda sendiri. Berbeda jika anda berkata” kamu seperti ibuku,” maka bisa menjadi zhihar jika disertai niat zhihar sebagaimana di atas karena tergolong ungkapan zhihar yang tidak terang (kinayah).

Lihat: Syarah Al-mahalli Juz.lV. Hal. 16,Tafsir Arrozi. Juz. 29 Hal. 487, Thfatul habib. Juz. iV. Hal. 14, Al-Asybah wan Nadhoir. Hal. 162.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *