gal24-07-2009hb-sholeh-syekh-abbas4

Kisah Bermulanya Maulid Nabi

Posted by

Kegiatan acara Maulid Nabi Muhammad SAW sudah berlangsung ratusan tahun, tapi mengapa masih ada orang yang menggugatnya? Pertama, mungkin karena ketidaktahuan tentang hakikat maulid Nabi dan dalil-dali syar’inya. Kedua, boleh jadi ada unsur kesengajaan untuk menolaknya atas dasar rasa ketidak-sukaan semata-mata. Untuk itu, kali ini Cahaya Nabawiy (CN) mewawancarai Ustadz Sholeh bin Ahmad Alaydrus., pengasuh Majelis Ta’lim Riyadus Shalihin ini dan guru di Ponpes Darul Hadits-Malang. Narasumber kali ini yang juga alumni Ponpes Abuya Al-Maliki (Mekkah) termasuk  ustadz yang sering mengadakan acara maulid Nabi Muhammad SAW. Berikut petikan wawancara dengan Ernaz Siswanto:

 

Bagaimanakah sejarah awal mula peringatan maulid Rasul SAW?

Perayaan Maulid seperti yang kita adakan dan saksikan selama ini dimulai sebelum tahun 604 oleh seorang raja yang mulia Al-Malikul Mudhoffar Abu Sa’id Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktukin. Perayaan maulid ini, beliau adakan pada setiap bulan Rabi’ul ‘Awwal dan dihadiri oleh ‘ulama pada zaman itu, dengan   mengumpulkan umat untuk bersama-sama membaca Al-Qur’an dan shalawat serta puji-pujian pada Rasulullah SAW. Setiap perayaan maulid, beliau menghabiskan dana sebesar 300.000 dinar, sedangkan pakaian yang ia pakai harganya tidak lebih dari 5 dinar. Suatu hari beliau ditanya oleh istrinya yang bernama Rabi’ah Khatun binti Ayyub (saudari dari Shalahuddin Al-Ayyubi panglima perang salib),  “Kenapa engkau tidak berat mengeluarkan shadaqah sebanyak itu padahal pakaianmu tidak lebih dari 5 dinar?” Beliau pun menjawab “Aku memakai pakaian yang murah dan bersedekah dengan sisa uang yang ada lebih baik daripada aku berpakaian mewah tetapi aku menelantarkan orang miskin.”

 

Apakah dalilnya yang membolehkan kaum muslimin untuk mengadakan perkumpulan apapun dalam rangka memperingati maulid Rasul SAW?

Banyak sekali dalil, baik dari Al-Qur’an maupun Al-Hadits berkenaan dengan mengadakan perkumpulan dalam rangka memperingati maulid Rasul SAW, di antaranya:

 قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.(QS. Yunus: 58)

Ayat tersebut di atas menganjurkan kita untuk melahirkan rasa senang dan gembira ketika mendapatkan karunia dan rahmat Allah SWT. Dan tidak ada karunia yang paling mulia dan rahmat yang paling agung melebihi dilahirkannya Nabi Muhammad SAW. Juga terdapat kisah Nabi Isa yang menjadikan hari turunnya hidangan dari langit sebagai Ied (hari raya), maka tidakkah lebih pantas hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai hari yang sangat bersejarah? firmanNya:

  وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللَّهُ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil Perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; Maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan.(QS. Al Maidah:14)

 

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Ketika Nabi Muhammad SAW masuk kota Madinah beliau dapati orang-orang Yahudi melakukan puasa Asyura, lantas beliau SAW bertanya ‘kenapa kalian melakukan puasa Asyura?’ Mereka pun menjawab; ‘sebab pada hari Asyura Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan pasukan-pasukannya, maka kami lakukan puasa ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang agung ini.’  Kemudian beliau bersabada: ‘Aku lebih berhak atas Nabi Musa daripada kalian’, maka beliau melakukan puasa dan menganjurkan umatnya untuk berpuasa (HR. Bukhari).

Jika beliau lebih berhak untuk mengungkapkan rasa syukur atas selamatnya Nabi Musa dan kaumnya daripada orang Yahudi, tidakkah kita lebih berhak untuk mensyukuri kelahiran Nabi Muhammad SAW di tengah-tengah kita?

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *