fhhfk

Lebih Akrab Dengan Habib Umar

Posted by

Lebih mudah mengakui kelebihan daripada mengakui kekurangan pribadi. Rendah diri, banyak orang yang bisa melakukan. Namun tidak semua orang mampu merendahkan diri serendah-rendahnya. Serendah bumi ; diinjak, dihina dilupakan. Pembaca yang budiman, rubrik sirah kali ini mengangkat kehidupan Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Ulama kharismatik “penyambung“ garis dakwah bumi Hadramaut di Indonesia. Berikut rangkumannya.

Cucu ke 13 dari Syekh Abubakar bin Salim ini lahir menjelang fajar Senin, 4 Muharram 1383 (27 Mei 1963) dari pasangan Zahra binti Ahmad dan Muhammad bin Hafidz.   Bakat dan kecerdasan Umar dalam ilmu agama sudah tampak sejak kecil. Ia hafal al-qur’an sejak masih kanak-kanak. Berkat didikan yang baik di lingkungan ilmu, iman dan akhlaq mulia, ia pun tumbuh sebagai pemuda yang gemar berguru kepada ulama terkenal, seperti ayahanda beliau, yang saat itu menjadi mufti Tarim, Habib Muhammad bin Alwi bin Syihab, Habib Munshib Ahmad bin Ali bin Syekh Abi bakar, Habib Abdullah bin Syekh Alaidrus, Habib Abdullah bin hasan bilfaqih (ahli tarikh) Habib Umar bin Alwi Al-Kaf (Ahli tarikh dan lughat) Habib Ahmad bin Hasan Al Haddad, termasuk saudaranya sendiri, Habib Ali Masyhur bin Hafidz. juga Habib Salim Assyatiri, Syekh Mufti Fadl bin Abdurrahman Bafadl, dan Syekh Taufiq Aman.

Sejak usia muda selain giat menimba ilmu beliau juga mengajar dan berdakwah. Habib Umar bin Hafidz mulai mengajar dan berdakwah sejak usia 15 tahun sambil terus menimba ilmu.

Ketika tekanan komunis semakin sengit menguasai bumi Hadramaut beliau memutuskan pindah ke daerah Baydo’ Yaman. Peristiwa ini terjadi pada awal Shafar 1402 / Desember 1981. Di Baydo’ beliau tetap melanjutkan belajar pada pengasuh Ribath Al Haddar Habib Muhammad bin Abdullah Al Haddar dan Habib Zein bin Smith. Beliau sangat semangat berdakwah dan membuat halaqah keilmuan, seringkali berdakwah di daerah-daerah pedalaman Baydo’, Hadidah dan Taiz. Kota terakhir ini sering beliau kunjungi demi menimba ilmu dari Al-Allamah Al Musnid Habib Ibrahim bin Umar bin Aqil.

Kekejaman penguasa komunis memang sangat dirasakan di kalangan ulama Tarim sejak Habib Umar masih kecil. Saat itu semua ulama Tarim, termasuk ayahanda Habib Umar dikenakan wajib lapor setiap hari. Pengajian-pengajian ulama selalu dibayangi todongan senjata penguasa. Namun demikian hal itu tidak menyurutkan Habib Muhammad yang dikenal ulama vokal. Meski memberikan ceramah dengan todongan pistol di kepala, beliau tetap menyampaikan kebenaran, hingga terjadilah peristiwa penculikan beliau.

Kejadian penculikan Habib Muhammad berawal ketika beliau mengajak Habib Umar (kala itu masih berusia sekitar 9 tahun) pergi melaksanakan shalat Jum’at di masjid Jami’ Tarim. Sesampainya di dalam masjid, ketika menunggu adzan Duhur, tiba-tiba Habib Muhammad dijemput oleh dua orang polisi. Kemudian beliau dibawa ke markas polisi yang kebetulah berdekatan dengan masjid Jami’ Tarim. Sebelum meninggalkan Habib Umar, Habib Muhammad sempat meletakkan surban beliau sebagai tanda bahwa beliau akan segera kembali.

Namun hingga sholat Jum’at usai, Habib Muhammad tidak kembali. Sejak saat itu tidak ada kabar tentang beliau. Tidak diketahui pula kapan beliau wafat dan di mana dimakamkan. Polisi penguasa komunis, setiap kali bertemu dengan Habib Ali Masyhur, kakak Habib Umar, bertanya, “Kemana ayahmu ?“ “Bukankah engkau yang telah membawa ayahku,“ jawabnya tegas.

Peristiwa ini begitu melekat dalam ingatan Habib Umar, karena saat itulah beliau terakhir bersama dan menyaksikan ayahanda beliau tercinta.

Setiap kali Habib Umar mengadakan jalsah (pengajian) di lapangan depan masjid Jami’ tersebut, beliau memandang kantor polisi yang berdekatan dengan masjid jami’, dan setiap itu pula beliau teringat peristiwa tragis tersebut.

Ketika Habib Umar nyantri di baydo’, beliau sangat dihormati oleh masyarakat. Hal ini disebabkan di samping menimba ilmu beliau juga melaksanakan dakwah. Dikisahkan suatu hari beliau didatangi para pemuda Baydo’. Dengan nada mengejek mereka bertanya kepada beliau, “ya Habib apakah boleh bermain sepak bola ?” Habib Umar menjawab, “Boleh.” “Kalau begitu engkau harus ikut kami.” Habib Umar pun mengabulkan permintaan mereka. Berangkat bersama ke lapangan bola. Ketika sampai di lapangan anehnya bukan kemudian beliau ikut main bola, melainkan menggelar sajadah di pinggir lapangan dan kembali membaca kitab. Melihat hal ini pemuda-pemuda menjadi sungkan. Merekapun mulai simpati kepada beliau dan semakin menghormati beliau.

Suatu hari ketika akan bertanding mereka datang ke Habib Umar dan ingin mengajak beliau dengan alasan agar lebih semangat. “Teman-teman merasa kurang semangat kalau Habib tidak ikut,” ucap pemimpin mereka. Habib Umar menolak dengan alasan mereka menggunakan celana pendek dan itu berarti buka aurot. Akhirnya mereka memutuskan menggunakan celana panjang tanpa disuruh Habib Umar. Ketika sampai di lapangan, Habib Umar melakukan hal yang sama. Menggelar sajadah dan membaca kitab.

Kesederhaan dan keseriusan Habib Umar dalam menuntut ilmu sangat tinggi. Lihat saja kamar Habib Umar ketika nyantri di Baydo’ yang hanya berukuran 2 x 3 dzira’ sekitar 1 x 1.5 m. kamar itu hanya cukup untuk duduk dan tempat kitab. Bahkan untuk tidur saja sangat susah.

 

Berangkat ke Haramain

Pada awal Rajab 1402 / April 1982, beliau berangkat ke Haramain dan belajar pada Habib Abdul kadir bin Ahmad Assegaf, dan Al Arif billah Habib Ahmad Masyhur bin Toha Alhaddad, Habib Abubakar Attos bin Abdullah Al Habsyi. Beliau juga mengambil ijazah dari Syekh Yasin Al-Padani (asal Padang-Sumatera) dan As-Sayyid Muhammad bin Alwy Al-Maliki.

Pada tahun 1413 H /1992 M beliau pindah ke Syihr, Hadramaut. Selama mukim di sana beliau mengajar dan berdakwah hingga banyak berdatangan santri-santri beliau dari berbagai penjuru Yaman serta Asia. Di samping itu beliau juga sempat tinggal dan berdakwah di Omman selama kurang lebih setahun. Kemudian beliau pindah ke Tarim dan menetap disana hingga sekarang.

Pada tahun 1993 Habib Umar berkenan hadir di Indonesia. Kedatangan beliau ini terjadi atas permintaan almarhum Habib Anis bin Alwi bin Ali al-Habsyi Solo kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf di Jeddah. Menurut Habib Anis, dengan kunjungan Habib Umar ini diharapkan tetap ada hubungan garis dakwah seperti halnya pada jaman yang lampau di mana banyak ulama Hadramaut yang datang ke Indonesia.

Beliau mulai mendirikan pondok Darul Mustofa pada tahun 1414 H / 1994 M. dan diresmikan pada hari Selasa 29 Dzulhijjah 1417 H/2 Mei 1997, begitulah terus berdatangan murid-murid dari berbagai penjuru dunia.

Adapun pendidikan di Darul Mustofa didasarkan pada 3 tujuan. Pertama, mengambil ilmu syariat dan hal yang berkaitan dengannya dari para ahlinya dengan sanad yang bersambung. Kedua, membersihkan jiwa dan melatih akhlaq. Ketiga, menyebarkan ilmu yang bermanfaat dan berdakwah ke jalan Allah Swt.

Meski Habib Umar berasal dari tempat yang terpencil. Tarim, Hadhramaut. Namun gema dakwahnya sampai ke Mekah, Madinah, Oman, Bahrain, Yordania, beberapa negara di Afrika. India, Malaysia. Amerika, Inggris, Kanada, India, Pakistan, Indonesia, Singapura, Brunei, Srilanka, Kenya dan Tanzania dan lain-lain. Dalam sebagian kunjungan itu. CNN, BBC, dan stasiun TV Bahrain mengambil kesempatan untuk  mewawancarainya. Selain berdakwah, Habib Umar juga aktif menghadiri pertemuan ulama internasional seperti Muktamar Majma’ Buhuts Islamiy di Al-Azhar Mesir dan sebagainya.

Sebagai ulama dan muballigh, tutur katanya lembut dan pengetahuan agamanya cukup luas.  Namun, sorot matanya tajam dan raut mukanya selalu tampak bercahaya. Dan, ketika berceramah, ia bisa berubah menjadi „singa podium“ yang berapi-api. Kalimat demi kalimat meluncur dengan suara lantang. Meski begitu ia tidak pernah menyinggung golongan atau pihak lain, apalagi menyakiti dengan kata-kata. la selalu menekankan pentingnya kebersihan hati, pengamalan, ilmu, dan berdakwah di jalan Allah.

Di samping sebagai dai, Habib Umar juga penulis yang produktif. Karya-karyanya tidak sebatas ilmu fiqih. la juga mengarang beberapa kitab tasawuf dan maulid. Kitab yang ditulis, antara lain, Diyaul Lami‘ (tentang Maulid Nabi SAW), Dhakhirah Musyarafah (fiqih), Muhtar Hadits (hadits), Nurul Iman, Durus Sab’ah (Nahwu), Khulasah Madad An-Nabawi (dzikr), Tsaqafatul Khatib (pedoman khutbah). Alwi Said

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *