10731895_360381450803715_1896267344_n

Perlunya Menjaga Iman

Posted by

Tak ada nikmat di dunia ini yang nilainya melebihi nikmat iman. Segala macam nikmat yang tiada terbilang jumlahnya itu diberikan kepada seluruh makhluk hidup terutama manusia, namun tidak demikian halnya dengan nikmat iman. Nikmat iman hanya diberikan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang dikehendakiNya. Segala nikmat dunia ini akan terputus jika manusia telah menemui ajalnya atau dunia ini berakhir. Tetapi iman akan menjadi pintu bagi menusia untuk menyongsong nikmat yang lebih besar dan abadi. Karena Itulah maka nikmat iman merupakan nikmat terbesar nilainya bagi umat manusia.

Iman merupakan sikap hati  atau rasa serta akal dan pikir sebagai respon positif terhadap informasi ilahiah yang disampaikan oleh para utusan Allah. Jika iman diartikan secara etimologi, ia memiliki arti “percaya.” Jika obyek sikap percaya ini adalah hal yang kongkret yang ditangkap oleh indra lahiriah, maka bukanlah itu yang dikehendaki. Kata ‘iman’ lebih menyangkut hal-hal yang gaib namun bisa diterima oleh hati dan akal sehat manusia melalui indikator-indikator yang ditangkap oleh indra manusia dan disimpulkan oleh akal logikanya.

Sifat jujur dan amanah para utusan Allah, mukjizat-mukjizat mereka yang ditampakkan dengan nyata, serta keberadaan semesta ini semuanya merupakan indikator adanya Subyek Mahakuasa yang bisa ditangkap oleh akal sehat manusia. Meski demikian, tidak semua hati dan pikiran logis manusia dengan serta-merta mau beriman. Faktanya kebanyakan manusia ingkar akan kebenaran yang dibawa oleh para utusan Allah. Fanatisme kelompok atau ras yang berlebihan, kedengkian dan iri hati pada orang atau kelompok lain ternyata kerap menimbulkan sikap sombong untuk menerima kebenaran yang ditawarkan pada mereka.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tak henti-hentinya menolak dan mengingkari kanabian Muhammad SAW juga dilatar-belakangi oleh kedengkian dan fanatisme buta. Padahal, kebenaran akan kerasulan Nabi berdarah Arab Quraisy ini sudah termaktub dalam Perjanjian Lama (jika mereka tidak menghapusnya dari teks kitab yang juga bernama Taurat itu). Orang-orang Yahudi dan Nasrani tak pernah memiliki argumentasi logis dan kuat dalam menolak kerasulan Nabi akhir zaman ini.

Pikiran manusia kerap terjebak dalam sikap sekuler dan menolak ajakan mempercayai hal-hal yang menurut mereka bertentangan dengan tradisi yang sudah mapan dan mengakar, meski tradisi itu salah, sesat dan tak berdasar. Dengan demikian maka bersyukurlah orang-orang yang akal-pikirannya dibuka oleh Allah SWT untuk beriman alias menerima Islam sebagai jalan hidupnya. Allah SWT berfirman :

`yJsù ϊ̍ムª!$# br& ¼çmtƒÏ‰ôgtƒ ÷yuŽô³o„ ¼çnu‘ô‰|¹ ÉO»n=ó™M~Ï9 ( `tBur ÷ŠÌãƒ br& ¼ã&©#ÅÒムö@yèøgs† ¼çnu‘ô‰|¹ $¸)Íh‹|Ê %[`tym $yJ¯Rr’Ÿ2 ߉¨è¢Átƒ ’Îû Ïä!$yJ¡¡9$# 4 šÏ9ºx‹Ÿ2 ã@yèøgs† ª!$# }§ô_Íh9$# ’n?t㠚úïÏ%©!$# Ÿw šcqãZÏB÷sãƒ

 

 

“Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendakiNya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan- dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan keburukan atas orang-orang yang tidak beriman.” (QS Al-An’am [6]: 125)

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *