hb-bagir

Mengenang Ketegasan Maula Pekalongan

Posted by

oleh Syamsul Hari

 

Saat ini kita mengenal Habib Rizieq Shihab sebagai sosok yang getol amar makruf nahi mungkar bersama FPI-nya. Tahukah kita bahwa dulu di zaman penjajahan Belanda ada sosok yang tak kalah tegasnya dengan beliau di kota Pekalongan. Beliau adalah Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Athas. Peringatan haul beliau hingga kini senantiasa ramai dihadiri ratusan ribu kaum muslimin se-Nusantara.

Bagaimana sepak terjang amar makruf nahi mungkar Habib Ahmad al-Athas di masa itu? Salah satu cicitnya yang bernama Habib Abdullah Baqir al-Athas berkisah, “Beliau (Habib Ahmad al-Athas) tidak dapat mentolerir terhadap hukum-hukum  Allah atau melihat orang yang meremehkan soal agama”. Seperti menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Menurutnya, kakeknya ibarat Khalifah Umar bin Khatthab, yang tegas-tegas menentang setiap melihat kemungkaran. Tidak peduli siapa yang melakukannya baik orang awam atau pejabat tinggi.

 

Para wanita tidak akan berani lalu lalang di depan kediamannya tanpa mengenakan kerudung atau jilbab. Tidak peduli wanita muslim, maupun wanita berkembangsaan Cina dan Belanda, bila hendak melewati depan rumahnya pasti menggunakan  penutup kepala. Pernah terjadi seorang istri residen Pekalongan dimarahinya karena berpapasan dengannya tanpa menggunakan tutup kepala.

Cerita-cerita yang berhubungan dengan tindakan Habib Ahmad ini sudah begitu tersebar luas di tengah masyarakat Pekalongan. Bahkan setiap ada perayaan- perayaan yang menggunakan bunyi-bunyian seperti drumband, mulai perempatan selatan sampai utara jalan KH. Agus Salim, tidak dibunyikan karena akan melewati rumahnya.

Beliau juga sangat keras terhadap perjudian dan perzinaan, sehingga hampir tidak ada yang berani melakukannya di kota ini, saat beliau masih hidup. Keberaniannya dalam menindak yang mungkar itu, rupanya diketahui oleh sejumlah sahabatnya di Hadramaut. “Saya heran dengan Ahmad bin Abdulllah bin Thalib Alatas yang dapat menjalankan syariat Islam di negeri asing, negeri jajahan lagi”, kata Habib Ahmad bin Hasan Alatas, seorang ulama Hadramaut. Syamsul Hari

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *