images

Semesta: Sarana Mencari Tuhan

Posted by

Mengapa kita merasa sulit mencari Tuhan jika tanda-tanda keberadaan-Nya (eksistensi alam semesta ini) begitu gamblang kita saksikan dan begitu riil kita rasakan? Keteraturan hukum tata-surya, rotasi dan evolusi benda-benda kosmos, tata kehidupan dan ekosistem yang demikian teratur, bahkan sistem anatomi dalam tubuh kita yang luar biasa itu adalah bukti tak terbantahkan (ayat-ayat) bagi nalar kita untuk menemukan dan mengenal eksistensi Tuhan dengan keesaan, kekuasaan, kekuatan dan pengetahuan-Nya. Dengan adanya semesta, Allah SWT telah memperkenalkan dan  “menampakkan diri” kepada kita.

Jika masih banyak orang-orang yang mengkufuri ayat-ayat Allah SWT, maka bukan berarti mata yang tidak melihat, atau telinga yang tuli tetapi mata hatilah yang buta. Allah SWT berfirman :

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada“. (QS al-Hajj [22]: 46).

Dengan memikirkan (menalar) keberadaan semesta, manusia tidak hanya “menemukan” eksistensi Tuhan. Lebih dari itu, manusia mampu menyingkap misteri hukum-hukum alam semesta. Riset dan uji coba ilmu pengetahuan adalah bagian dari upaya memikirkan dan menyibak hukum-hukum kausa semisal; gravitasi, teknik, mekanik hingga elektronik yang sebelumnya “disembunyikan” oleh Allah SWT. Riset tak kenal lelah pada akhirnya membuahkan peradaban yang demikian maju dan mutakhir seperti yang kita saksikan kini.

Hanya saja, isyarat penyingkapan rahasia hukum semesta (riset ilmiah) tidak banyak dilakukan oleh umat Islam, sehingga Barat lebih dahulu ambil bagian dalam hal itu. Kemajuan yang dicapai oleh Barat tak lepas dari keuletan mereka dalam menyingkap hukum-hukum semesta yang masih “disembunyikan” oleh Allah di balik mainframe otak manusia. Jika saja ayat di atas kita kaji lebih dalam dan kita reaktualisasikan dengan konteks-konteks modern maka tidak mustahil dunia Islam yang akan tampil memandu kemajuan peradaban dan kebudayaan dunia.

Dari perpaduan dzikir (ESQ) dan pikir (IQ) yang sama-sama urgen itu, maka akan timbul dari hati nurani (zero mind) sebuah pengakuan tulus, “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka

Pernyataan permohonan pemeliharaan diri dari siksa neraka, adalah ejawantah dari rasa iman akan keberadaan alam akhirat. Bahwa ancaman Allah akan siksa neraka atas orang-orang yang mengkufuri nimkat-Nya adalah pasti terjadi. Maka seorang cendikiawan sejati pada akhirnya tetap mengharapkan ampunan dan perlindungan kepada Tuhannya dari siksa neraka. Di sini juga mengajarkan etika bagaimana seharusnya kita mengakui kelemahan diri di hadapan Allah SWT Tuhan Yang Maha Segalanya. Wallahu A’lamu bish-shawab. Anshory Huzaimi

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *