habib-taufiq-bin-abd-qodir-assegaf

Ciri Insan Berhati Bening

Posted by

Di dalam raga manusia terpendam segumpal daging. Wujudnya sungguh bermakna. Bila ia bersih, putih, tak terkontaminasi, maka manusia itu baik, saleh, dermawan, dan santun. Sebaliknya, bila warnanya hitam, dekil, berlumuran debu, maka manusianya keji, penipu, egois, dan penuh nafsu untuk memangsa manusia yang lain.

Hakikat hati itu bening, laksana cermin. Lalu ia berproses seiring usia. Lingkungan dan pergaulan adalah ekses-ekses yang mempengaruhi warna hati. Pendidikan juga menentukan. Sebab itu manusia musti mawas diri. Segala yang masuk harus disaring dengan jeli. Iman dan takwa adalah filter. Taubat dan istighfar adalah media untuk menetralisir.

Habib Syaikhan bin Ali as-Segaf, seorang ulama besar yang kubahnya menjadi monumen sakral di Bandar Mukalla, Hadramaut, membedah ihwal hati dengan kearifan makrifatnya. Seabad yang lampau, kalam-kalam beliau ini dicatat dan didokumentasikan dengan rapi menjadi manuskrip yang memperkaya khazanah kesalafan. Oh ya, beliau adalah ayahanda Habib Jakfar bin Syaikhan as-Segaf.

“Betapa bagus dan eloknya hati yang lembut, bertabur cinta, rahmat, kasih sayang, dan perhatian. Pitutur-pitutur bijak mudah diserapnya. Ia mencandu kebajikan. Dan hal-hal baik adalah perangai kesejatiannya. Ia mendamba orang-orang baik, antipati kepada kedurjanaan dan pelakunya. Hati macam ini penuh welas asih dan nasehat.”

“Penanda orang yang dikaruniai hati sejernih ini adalah sikapnya yang lapang dada, jiwanya dermawan, tutur katanya santun, pemikirannya bersih, kasih sayang, murah senyum, raut muka yang sejuk dipandang, ringan tangan, sangkaannya selalu positif, serta ragawinya terjaga dari laku-laku maksiat. Tengara yang lain ialah suka bercanda akrab, aura wajahnya terang, dan rasa malu selalu melingkupi air mukanya. Orang macam ini tak betah pada perbuatan batil, dan kurang menikmati keramaian.”

“Empunya hati serupa ini senantiasa beroleh penjagaan dari Allah SWT. Dirinya takkan pernah luput dari radar pengawasannya. Ciri-ciri orang ini adalah tawadhu’, hatinya mudah koyak, merasa diri lemah dan fakir kepada-Nya, hanya cinta kepada perkara-perkara yang dicintai dan dipilih-Nya. Setitik amal saleh yang diperbuat orang berhati emas ini nilainya jauh lebih agung dari amal-amal yang dilakukan orang berhati keruh. Barangsiapa mengenal sosok ini, jangan bimbang, bersahabatlah dengannya, selalulah di dekatnya!”

Kira-kira, adakah manusia berhati mulia seperti ini sekarang? Di zaman yang telah coreng-moreng dengan kepalsuan? bila ada, ia adalah mutiara diantara kerikil-kerikil tajam yang menusuk. Yang umum saat ini adalah manusia berhati materialistik yang serakah dan diliputi angkara murka.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *