0_0_1400_933_3c1b14e979f165c3aef4bc68546523e25de2b0f2

Luar Batang Yang Luar Biasa

Posted by

Anda ingin mendapatkan pengalaman yang memuaskan rohani? Anda ingin memperoleh berkah yang meruah? Datanglah ke Luar Batang. Di situ ada wisata religi yang eksotik.

 

Jakarta, kota paling riuh di negeri tercinta ini, ternyata menyimpan banyak kedamaian. Di sana terdapat situs-situs peninggalan salaf yang menguarkan hawa sejuk. Jumlahnya tidak sedikit. Kebanyakan adalah warisan para habaib dan masyayikh dari tanah Hadramaut.

Salah satu peninggalan berharga itu adalah masjid Luar Batang. Letaknya di perkampungan baru Luar Batang, kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara-masih satu kawasan dengan Pelabuhan Pasar Ikan Sunda Kelapa. Masjid ini dirintis oleh Habib Husein bin Abu Bakar al-Idrus, ulama dan pejuang muda di abad 18 Masehi.

Masjid Luar batang ini tergolong klasik. Berusia lebih dari dua ratus tahun. Telah bermetamorfosis beberapa kali. Awal mula berdiri, sekitar tahun 1716 M. Bentuk masjid ini mungil, sekitar 6×6 meter. Kalau sekarang mungkin lebih tepat disebut surau (mushalla). Terbuat dari kayu dengan gaya bangunan khas Betawi. Kubahnya membentuk formasi bawang (khas bangunan Persi).

Kemudian, masjid ini mengalami empat kali pemugaran. Terakhir pada tahun 1992. Saat itu nyaris terjadi perombakan total. Kubah bawang diganti menjadi kubah joglo- nuansa Jawa jadi kian kental. Menara masjid dipancang tinggi-tinggi, menyembul ditengah pemukiman super padat tersebut. 12 tiang utama dari kayu dibongkar dan diganti pilar beton bergaya Romawi. Sementara lantai kayu dan ubin diganti dengan keramik dan batu granit.

Selain plafon kayu jati yang masih asli,penanda yang menunjukan masjid tersebut terbilang kuno adalah prasasti di makam Habib Husein bin Abu Bakar al-Idrus. Di situ tertulis makam bertanggal 24 Juni 1756. Di dalam ruangan 6×7 meter itulah persemayaman terakhir Habib Husein al-Idrus.

Masjid ini menyimpan berjuta kisah. Salah satunya menjadi sebuah legenda yang masyhur. Syahdan, suatu malam, Habib Husein dikejutkan dengan kedatangan seorang lelaki yang basah kuyup oleh keringat. Lelaki itu ternyata seorang Tionghoa yang tengah dikejar-kejar tentara VOC Belanda. Dengan tenang, Habib menampungnya di dalam mushallanya.

Siangnya, tentara VOC mendatangi mushalla tersebut untuk menangkap sang pelarian. Tapi, Habib Husein mencegah. “Aku akan melindungi tawanan ini dan akulah sebagai jaminannya,” tegas Habib begitu lantang.

Mendapati ketegasan dari seorang yang berpengaruh di daerah itu, tentara VOC pun mengalah. Si lelaki Tionghoa terharu. Ia pun akhirnya masuk Islam. Dan ia menjadi pembantu Habib dalam menyiarkan agama Islam di daerah itu.

Suatu hari, pada tanggal 17 Ramadhan tahun 1169 Hijriah, bertepatan dengan 27 Juni 1756 M, Allah SWT memanggil Habib Husein dalam usia kurang lebih 30-40 tahun.

Ketika itu, Belanda melarang keras para pendatang dimakamkan di daerah itu. Mereka harus dimakamkan di Tanah Abang. Konon, sudah tiga kali warga yang mengusung kurung batang (keranda) Habib Husein ke Tanah Abang, namun kala sampai mereka selalu mendapatinya kosong, dan tiga kali itu juga jenazah Habib kembali ke mushalla itu.

Akhirnya, Belanda lagi-lagi mengalah. Dan membolehkan Habib Husein dimakamkan di kawasan mushalla tersebut. Sejak itulah, tempat itu dinamakan mushalla luar batang, yang kemudian dipugar menjadi Masjid Luar Batang.

Ziarah

Anda tertarik mengujungi tempat ini? Silakan saja. Tidak sulit kok. Dari arah Ancol atau terminal Glodok kota, Anda bisa menggunakan angkutan umum seperti metromiini atau mikrolet menuju ke arah pasar ikan atau museum bahari di kawasan utara kota. Alternatif lain, bila Anda sudah sampai di terminal Jakarta Kota, gunakanlah jasa taksi, bajay, atau metromini menuju pelabuhan Sunda Kelapa. Nah, kalau sudah sampai di sini, pangillah abang-abang ojek. Bisa dipastikan, mereka akan gembira mengantar anda menuju masjid Luar Batang ini melewati jalan selasar.

Makam Habib Husein di kompleks masjid ini merupakan magnet luar biasa. Bagi kaum muslimin yang berafiliansi pada ahlussunnah wal jamaah, ziarah ke makam Habib Husein adalah berkah. Bahkan, di belantika sufi tanah Jawa pun beredar adagium “berkunjung ke Jakarta tidaklah afdhal bila tidak ziarah ke Luar Batang”. Makanya jangan heran, peziarah makam ini bukan hanya muslimin lokalan saja, warga internasional juga banyak, seperti dari Malaysia, Singapura, Thailand, Afrika, dan Yaman. Habib Umar bin Hafiz, pemangku Darul Musthafa Tarim, beberapa waktu lalu menyempatkan diri datang ke sini.

“Pada hari-hari tertentu peziarah datang mendoakan. Jumlahnya mencapai puluhan. Kalau ditotal sampai ribuan kesini. Banyak yang menginap sampai 40 hari dan menginap di area masjid,” ungkap salah seorang pengurus masjid Luar Batang.

Mengetahui masjid dan makam Husein bin Abu Bakar Alaydrus terus kian ramai diziarahi, pengurus masjid berbenah. Berbagai fasilitas pendukung disiapkan seperti area parkir yang representatif, dan air bersih untuk berwudlu. Begitupula dengan berbagai kegiatan yang mempererat rasa persaudaraan (ukhuwah) umat Islam.

“Salah satunya kalau pas Maulud Nabi dan Nuzulul Qur’an, kita adakan pengajian dan khotmul quran (membaca Al Quran 30 juz). Untuk menjalin ukhuwah islamiyah,” imbuh pengurus itu.

Sayangnya, akses menuju masjid bersejarah tersebut masih agak susah. Jalan Luar Batang V yang jauhnya sekitar 300 meter dari jalan utama, cuma gang sempit yang hanya memuat 2 mobil yang harus berjalan pelan. Bus rombongan harus memutar agak menjauh lewat jalur belakang yang sepi dan becek terkena air pasang laut. Sementara pemukiman miskin dan super padat mengepung lokasi masjid. Masjid menjadi seperti oase rohani kaum dhuafa.

Salah satu akibatnya, saat banjir menerjang Jakarta 2007 dan gelombang laut pasang awal 2008, tim pemadam kebakaran kesulitan memompa air  yang sempat merendam masjid hingga sebatas dada orang dewasa. Dibutuhkan waktu sehari untuk menguras banjir tersebut. “Kalau sekarang agak lumayan sudah ditinggikan,” pungkas si pengurus.

Memang benar, infrastruktur mesti segera dibenahi. Sebab, masjid Luar Batang ini adalah monumen yang memperkaya khazanah budaya bangsa kita yang mulai kehilangan identitas. Namun apalah arti sarana. Kalau hendak mendulang berkah, kemana saja akan kita tempuh. Berkah adalah bekal keselamatan kita kelak. Dan lewat insan semulia Habib Husein inilah kita bisa menimba berkah itu. Syamsul

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *