17264450_1918145151544967_2130640568756604477_n

Habib Taufiq “Masuk” Penjara!

Posted by

Pagi itu, di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kota Pasuruan, seperti biasa para bang napi keluar dari sel untuk menghirup udara segar. Di Lapas yang memiliki dua blok ini memang sel baru dibuka sekitar jam enam pagi untuk memberi kesempatan napi menghirup udara pagi, itupun tidak bisa keluar komplek. Tiba-tiba saja pintu komplek dibuka dan seluruh bang napi digiring menuju masjid Lapas. Namanya juga narapidana, ada yang langsung menuju masjid ada yang masih bergerombol. Beberapa petugas tampak memaksa mereka masuk ke dalam masjid.

Sejurus kemudian, dari arah pintu masuk tampak beberapa orang masuk. Tampak diantaranya Habib Taufiq, pengasuh Ponpes sunniyah Salafiyah didampingi Drs. Abdul Kadir al-Habsyi, Pemred Cahaya Nabawiy. Tampak juga beberapa tokoh dari MUI Kota Pasuruan seperti KH. Ahmad Ali Ahmad Sahal dan KH. Hasan Ma’ruf serta beberapa petugas Lapas. Kedatangan rombongan ini bukan sebagai narapidana baru di Lapas yang baru saja mendapat kiriman puluhan napi titipan dairi Lapas kelas I Medaeng Surabaya ini. Rombongan langsung menuju masjid Lapas dan disambut dengan hangat oleh para napi. Mereka berebut berjabat tangan dengan Habib Taufiq yang dikenal dekat dengan semua golongan ini.

Saat itu memang tengah dilaksanakan pembinaan keagamaan sebagai wujud bentuk kerjasama pihak Lapas dengan MUI Kota Pasuruan yang menggandeng Ponpes Sunniyah Salafiyah Pasuruan. Kedatangan Habib Taufiq ke Lapas ini juga bukan untuk yang pertama kali. Habib muda ini sudah seringkali masuk Lapas untuk memberikan siraman rohani.

Pesan Ruhani

Dalam setiap ceramahnya, Habib yang tidak pernah pilih-pilih makanan ini selalu menebarkkan kesejukan hati dan menambah keimanan. Berikut petikan ceramah beliau ketika berkunjung ke Lapas Kota Pasuruan.

Beliau menyampaikan bahwa sebagai umat Islam kita ini bersaudara seperti satu tubuh. Rasulullah saw bersabda bahwa antara muslim yang satu dengan yang lainnya adalah seperti satu tubuh, jika satu bagian sakit maka sakitlah seluruh tubuh. Misalnya kaki kita yang tersandung batu, tapi mulut kita yang menjerit, mata kita yang menangis. Demikian juga jika ada satu bagian tubuh yang merasakan nikmat maka bagian yang lain ikut merasakan. Itulah gambaran kita sebagai orang mukmin, saling merasakan apa yang dirasakan oleh saudara kita sesama mukmin lainnya. Sakit, nikmat, susah semuanya dirasakan semua. Dan sekarang kita disini kumpul dan bertemu di sini sebagai satu saudara, satu tubuh.

Dalam hadits yang lain Rasul saw. mengatakan bahwa orang Islam itu seperti sebuah bangunan yang satu bagian dengan bagian yang lain akan saling menguatkan. Kalau kita perhatikan sebuah bangunan seperti masjid ini, semuanya berasal dari unsur yang lemah. Pasir dan semen tertiup angin berhamburan, air juga demikian, batu bata sekali pukul hancur. Tapi ketika semuanya dijadikan satu, akan menghasilkan bangunan yang kokoh, tidak mudah roboh. Itulah gambaran kita umat Islam, jika kita berpisah, tercerai berai, kita menjadi umat yang lemah, tapi bila kita bersatu kita akan menjadi umat yang kuat.

Juga dikatakan oleh Rasul saw. bahwa orang Islam itu seperti kedua tangan yang saling memperhatikan, jika tangan kiri yang kotor, maka tangan kanan yang membersihkan, demikian sebaliknya. Begitulah seharusnya orang Islam, jika ada saudaranya yang membutuhkan, maka ia akan segera membantu. Ketika yang lemah membutuhkan maka yang kuat akan membantu, ketika ada saudaranya yang belum mengerti maka yang berilmu akan mengajarinya.

Karena itu jika ada seorang yang mengaku muslim tapi dia tidak peduli dengan keadaan yang dialami oleh saudaranya sesama muslim, maka orang itu tidak diakui oleh Nabi Muhammad saw sebagai umatnya. Rasul bersabda, “Barangsiapa yang tidak peduli dengan keadaan ummatku, ia bukan termasuk ummatku.”

Ingatlah bahwa agama yang diakui oleh Allah hanyalah Islam. Islam adalah agama yang ditopang oleh dua cahaya syahadat, kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan kesaksian bahwa Muhammad adalah utusan atau Rasulullah. Tuhan kita bukanlah batu, matahari, kayu, air, manusia dan bukan apapun. semua itu akan berubah dan sirna. Tuhan kita adalah Allah, pemilik dan pengatur alam semesta. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Nyatakan dalam hati, kalimat La ilaha illa Allah, tiada Tuhan selain Allah. Dialah Allah yang menghidupkan, mematikan.

Buktinya apa kalau Allah itu ada, kita kan nggak pernah melihat Allah ! Apakah anda yang disini pernah melihat penjahit yang telah menjahit baju anda. Anda percaya bahwa penjahit itu ada lewat baju yang anda pakai. Tidak mungkin ada baju tanpa penjahit, nggak mungkin ada kain tanpa tukang tenun. Ada kotoran sapi di jalan kita bisa pastikan ada sapi yang telah lewat jalan itu sekalipun anda tidak menyaksikan sapi itu. Apa anda mau dikatakan manusia jika buang hajat dengan kotoran sapi. Begitu juga dengan alam ini ada karena ada yang menciptakan, Dia-lah Allah SWT.

Masuk Islam

Acara yang berlangsung dari jam 08.00 – 11.00 meninggalkan kesan yang mendalam di kalangan napi. Dalam kesempatan kunjungan ini juga terdapat seorang napi yang masuk Islam. Adalah Komang, seorang napi beragama Hindu dari Singaraja-Bali yang menyatakan masuk Islam di hadapan Habib Taufiq.

Program pembinaan ruhani di Lapas yang dilaksanakan oleh MUI ini sudah berlangsung sejak tahun 2006 (selengkapnya baca rubrik Fikrah, hasil wawancara dengan KH. Ahmad Ali Ahmad Sahal, ketua Bidang Dakwah dan Pendidikan MUI Kota Pasuruan). Hingga saat ini upaya untuk mengembangkan dakwah di lingkungan Lapas terus ditingkatkan. Bahkan, Habib Taufiq selaku pengasuh Ponpes Sunniyah Salafiyah sudah menyatakan kesediaan membantuk gerakan dakwah ini. Rencananya ada forum pengajian khusus yang dibina oleh juru dakwah dari Sunniyah Salafiyah. Rabu 09 Januari 2008 Muhammad Nawawi

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *