2

Silang Pendapat Ihwal Shalat Isyraq

Posted by

Mengenai salat isyraq, terjadi perbedaan pendapat di antara ulama. Ada yang mengatakan bahwa salat isyraq berbeda dengan salat dhuha. Syekh Zainuddin Al-Malibari termasuk di antara ulama-ulama yang berpendapat demikian. Maka dalam kitabnya itu, dia menganjurkan supaya, begitu matahari naik setinggi satu tombak (18 menit setelah matahari terbit), orang melakukan salat isyraq lebih dulu. Setelah itu membaca Al-Quran satu hizib atau lebih, dilanjutkan dengan salat dhuha. Begitulah yang dia katakan dalam syair berikut ini:

 

حَتىَّ إِذَا شَمْسٌ بَدَتْ كَرُمَيْحِناَ      صَلىَّ لِإِشْرَاقِ وَقُرْآنًا تَلَا

 

Hingga kala surya menampak

Setinggi kita punya tombak

Salatlah dia untuk isyraq

Lalu membaca dia Quran

 

Alhabib Thahir bin Husain bin Thahir juga memiliki pendapat yang sama. Demikian pula Imam Al-Ghazali. Menurut mereka, waktu permulaan salat isyraq sama dengan salat dhuha, yaitu ketika ketinggian matahari mencapai satu tombak, dan berakhir beberapa saat kemudian di kala matahari semakin memancarkan sinarnya.

Sedang ulama lain berpendapat bahwa yang dimaksud salat isyraq tidak lain adalah salat dhuha. Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh Ibnu Abbas r.a. dan kemudian diikuti oleh Syekh Al-Bujairami, Sayid Abu Bakar bin Syatha Al-Makki (penulis I’anatuth Thalibin dan Syarah Hidayatul Atqiya’ ila Thariqil Awliya’). Dasarnya adalah hadis Ummu Hani’ r.a. menceritakan Rasulullah s.a.w. salat dhuha lalu beliau bersabda, “Ini adalah salat isyraq.” Kita mengikuti pendapat terakhir ini.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *