rose

Perempuan Berhati Baja

Posted by

Nama Khanza  binti Khidzam Al-Anshariyah sudah sangat dikenal sebagai seorang penyair wanita bukan saja ketika beliau telah berhijrah bersama Rasulullah, bahkan sejak  masa kejahiliyahannya.  Khanza pun telah mengukirkan namanya sebagai seorang penyair legendaris.

Dia mulai memperkenalkan syair-syair lewat tulisannya pasca tragedi yang menimpa keluarganya dengan kematian Sakhr kakak laki-lakinya.   Al-Khanza mengumumkan ke-islamannya setelah wanita ini mendatangi Rasulullah SAW bersama-sama kaumnya dari Bani Sulaim untuk berbaiat.  Dan keputusan terbaik untuk menjadi seorang muslimah ini bukan sekedar trend untuk mengikuti kaumnya, namun dengan sebuah komitmen pribadi untuk membangun diri dengan akidah tauhid yang kokoh.

Hal ini dibuktikan dengan kualitas keislaman Al-Khanza yang patut untuk mendapat acungan dua jempol karena wanita penyair ini berhasil menjadi figur bercahaya dari figur-figur keberanian, kehormatan diri dan simbol mulia bagi sosok ibu muslimah.

Tidak seperti kebanyakan wanita pada umumnya di jaman itu, seorang Al-Khanza  jiwanya dipenuhi dengan kreatifitas yang tidak pernah padam. Dari buah pikiran dan perenungannya lahirlah  syair-syair yang dapat menggugah semangat dan mengagumkan banyak orang termasuk Rasulullah yang sering memintanya untuk bernasyid. Dan Rasulullahlah yang memberikan gelar seorang penyair terulung.  Beliau seorang penyair yang mempunyai jiwa heroisme yang menyala-nyala dalam membela Dien dan kebenaran.

Karenanya Al-Khanza seringkali berangkat di banyak peperangan pasukan muslim menyertai tentaranya yang gagah berani.  Dan beliau adalah seorang ibu yang dengan syairnya mengantar satu persatu putera tercinta melepas jasad dari raga kembali kepada Rabbnya dengan kibaran bendera syahid, Subhanallah!  Dia yang susah payah mengandung dan melahirkan ke empat puteranya, di kala dewasa dia pula yang mendorong dan menyalakan kobaran semangat dan menyertai mereka untuk maju ke medan peperangan hingga tetes darah penghabisan. Sungguh pengorbanan seorang ibu yang mungkin tidak akan pernah kita dapati saat ini.

Dikala al-Mutsana bin Haritsah as-Syaibani berangkat ke Qadisiyah dimasa pemerintahan Amirul Mukminin Umar Ibnul Khathab, Al-Khanza turut berangkat sekaligus menyertai keempat puteranya dalam rombongan tentara ini. Begitulah kebesaran hati seorang ibu yang bernama Al-khanza ini.   Jika biasanya seorang ibu akan menangisi kepergian puteranya ke medan perang karena kematian selalu menjadi salah satu pilihan, maka wanita ini justeru memberikan dorongan kuat dengan menyertai keempat puteranya menuju medan peperangan dengan nasehat yang selalu mengiang di telinga yaitu cinta kesyahidan fii sabilillah.

Kepada putera-puteranya dia berwasiat : “Wahai anak-anakku, sungguh kalian telah masuk Islam karena dasar taat semata, dan kalian berhijrah secara merdeka. Maka demi Allah yang tiada ilaah selain-Nya, kalian berempat adalah putera seorang ibu dan aku tidaklah berkhianat kepada ayahmu. Aku juga tidak serong bersama pamanmu, dan aku sama sekali tidak akan merendahkan nasab keluhuranmu.

Dan kamu berempat sudah mengerti hadiah besar yang telah Allah sediakan bagi kaum muslimin dalam peperangan melawan kaum kafirin. Ketahuilah bahwa negeri abadi adalah lebih baik daripada negeri fana.  Dan sang ibupun dengan penuh perasaan menggugah semangat mereka dengan firman Allah  :  ” Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan) negerimu, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imron : 200 )  Keempat putera penyair inipun bak terhujam dadanya demi mendengar tutur kata sang ibu dan berbekal semangat dan doa ibundanya mereka segera berpencar merapatkan barisan tentara muslimin dan menerjang barisan musuh.

Seiring derap langkah kakinya menyergap musuh , putera pertama bersenandung mengingat kembali nasehat ibundanya seraya memberikan semangat kepada saudara-saudarannya. Ia melaju menerjang kekuatan lawan hingga terbunuh.  Maka putera kedua menggantikannya seraya bersenandung membangkitkan jiwa :   Entah demi kemenangan mendinginkan hatiAtau mati menghadiahi kalian kemuliaan hatiDi surga firdaus dan kehidupan senang tersaji  Ia pun lantas terus maju, berperang hingga bersimbah darah dan menghembuskan nafas yang penghabisan.

Demi Allah, Allah ar-RahmanKami tak akan menyelisihi ibu tua sebagai pembangkanganIa telah memerintahkan kami dengan peperangan dan kehalusan  Demikianlah senandung putera ketiga yang akhirnya mengantarkan jiwa kembali kehadapan Allah menyusul dua orang kakak yang telah mendahuluinya.    Ketiga putera tercinta Al-Khanza telah terbunuh dalam peperangan di depan matanya. Dan sekarang tinggalah dia bersama putera keempat, satu-satunya putera yang masih tersisa. Apakah Al-Khanza akan menghalangi puteranya untuk ikut terjun dalam kancah peperangan dan menyusul kakak-kakaknya?

Bukanlah Al-Khanza jika dia ingkar dengan kata-katanya karena takut kehilangan buah hati yang tinggal seorang. Dia adalah figur bercahaya dan simbol mulia seorang ibu muslimah, maka diapun mengikhlaskan  anak terakhirnya untuk maju dalam peperangan.  Tidaklah saya memenuhi harapan-harapan Khanza, Akhram dan Amr yang terlebih dahulu meraih keluhuran Jika saya tidak ingin tentara asing yang besar dan banyakBerlalu dengan ketakutanEntah demi kemenangan segera atau rampasan, atau mati di jalan kemuliaan

Maka  si bungsu maju menerjang musuh dan menyerahkan jiwanya pada Sang Khaliq.  Apakah Al-Khanza menyesal, menangis dan meratap kecewa  melihat semua yang terjadi atas anak-anaknya? Ternyata tidak, bahkan sejarah telah mencatat ucapan wanita mulia ini demi menyaksikan keempat puteranya telah meninggalkan dia selama-lamanya.  “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan saya dengan kesyahidan mereka, dan saya berharap Rabb-ku mengumpulkanku bersama-sama mereka dalam tempat kediaman kasih-sayangMu.”

Begitulah kebesaran jiwa seorang ibu yang mendidik dan membekali putera-puteranya dengan keimanan dan kecintaan pada Rabb-Nya. Seorang ibu yang akhirnya harus mengisi sisa hidupnya seorang diri tanpa sedikitpun penyesalan dan ratapan, justeru kepuasanlah yang dia rasakan karena telah melahirkan, mendidik dan mengantarkan putera-putera tercintanya kembali menghadap sang pencipta dengan keranda kesyahidan.

Al-Khanza, seorang wanita yang telah mengabdikan diri dalam perjuangan Islam hingga akhir hayatnya di tahun 24 hijriyah pada awal-awal pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan ra adalah figur seorang ibu yang sukses dalam membangun masa depan putera-puteranya dengan iman, bagaimana dengan kita?                                                                                                          Sulistiorini

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *