mlk3

Mengapa Abuya Al-Maliki Disegani Wahabi?

Posted by

Prof Dr As-Sayyid Muhammad bin Alwy bin ‘Abbas Al-Maliky Al-Hasaniy adalah seorang Ulama’ kondang yang bertaraf internasional. Guru besar yang pernah mengetuai kepanitiaan Musabaqah Tilawatil Qur’an  se-Dunia ini sudah mengarang puluhan buku-buku ke-islaman yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Salah satu bukunya yang monumental adalah AL-INSAN KAMIL. (telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Ustadz Hasan Baharun).

 

Partisipan berbagai-bagai kegiatan dakwah dan tabligh Rabithah ‘Alam-Islamy (Liga Dunia Islam) dan Muktamar Dunia Islam ini pernah beberapa tahun mengasuh pengajian di Masjidil Haram, Makkah Al-Mukarramah. Guru Besar Ilmu Tafsir dan Ilmu Hadits  ini termasuk salah satu Ulama Dunia Islam yang sangat dihormati. Ayahanda beliau,  Sayid Alawy bin ‘Abbas Al Maliky  juga terkenal sebagai Ulama Al-Haramain yang kesohor dan disegani.

Selain itu puluhan buku karya berisi berbagai pemikiran beliau yang sudah dicetak ulang (dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Melayu, bahkan Inggris dan bahasa Afrika lainnya). Juga ada beberapa kaset dakwah yang untuk pertama kalinya diedarkan di Indonesia atas izin beliau. Di Saudi sendiri, beliau tetap  mengisi dakwah melalui radio nasional. Salah satu judul kaset mubaligh  keliling dunia ini adalah Ma’rifatus Shahabah (Mengenal Sahabat Rasul) – sebuah kajian tentang peranan dan posisi sahabat dalam mengembangkan  sunnah Nabi SAW.

Pada tahun 80-an  beliau menjadi pusat perhatian ulama Dunia Islam karena dipojokkan oleh ulama Wahabi. Itu tak lain karena beberapa tulisan Abuya (begitu panggilan para santrinya kepada sang Ustadz) mengeritik keras kekakuan sikap Wahabi (mayoritas aliran dianut warga di Saudi bahkan pemerintah kerajaan) yang bersikap kaku dengan suka mengkafirkan kaum sunni hanya karena beberapa amalan yang menjadi tradisi mereka, seperti pembacaan Maulid Nabi SAW, Burdah dan Tawassul —  seperti orang Khawarij, tanpa memahami tujuan-tujuan syari’at yang sebenarnya. Munculnya buku beliau berjudul “Mafahim yajib an-Tusahhah” (Faham – faham yang wajib dibetulkan atau diluruskan) karya Abuya, banyak mengupas tuntas dan mengcounter seluruh hujjah yang dijadikan pembenaran oleh kaum wahabi. menjadi pegangan dan buku wajib pesantren ahlus sunnah wal jama’ah di Indonesia.

Sejak tahun 1974-an dua bersaudara (adiknya bernama ‘Abbas yang juga tinggal di Mekkah) ini membuka pesantren di ‘Utaibiyah, Mekkah. Yang unik pondok ini hanya mau menerima santri dari Indonesia. Sudah ratusan alumni (sebagian besar sudah buka pondok dan majlis taklim di Indonesia) dihasilkan dari Pesantren yang belakangan diberi nama “Ma’had Al-Maliky” ini. Kemudian karena sempit, maka pondok dipindah ke kawasan baru yang agak jauh dari Ka’bah, diberi nama jalan Maliky. Di sinilah puluhan santri asal Indonesia belajar – minimal sepuluh tahun sebelum dapat diizinkan pulang kampung untuk mengembangkan pengetahuannya.

Ulama hadist kontemporer ini tergolong pakar ilmu hadist yang getol membela sunnah Nabi dan Khulafa Ar-Rasyidin. Beliau merupakan ulama sunni masa kini yang berani melawan dan berdebat secara terbuka dengan para ulama Wahabi, sehingga beliau disebut sebagai ulama kontroversial karena yang dominan di Arab Saudi adalah paham Wahabi.

Namun, karena kepandaian dan pengaruhnya, beliau masih disegani oleh pemerintahan Raja Fahd dan para ulama Wahabi setempat. Karena sejak dulu beliau sering bertemu dan berdebat dengan mereka. Terakhir perdebatan tentang agama itu terjadi pada tahun lalu yang berhasil bahkan selalu beliau menangkan. Perdebatan itu ditanyangkan langsung melalui telivisi Arab Saudi atas permintaan beliau. Kemenangan ini yang akhirnya melunakkan sikap Perintahan Arab Saudi yang memperbolehkan dirinya kembali memberi pengajian di Masjidil Haram.

Sebelumnya , beliau memang dilarang memberikan nasehat dan mengajarkan ilmu-ilmu agama di tempat-tempat umum, karena sikapnya yang secara terbuka menentang paham Wahabi. Namun sayangnya, kesempatan yang diberikan oleh Pemerintah Arab Saudi atas izin diperbolehkannya  kembali mengajarkan ilmunya belum sempat dilaksanakan, beliau keburu menghadap Sang Khalik.

Jarang terdengar beliau sakit. Tapi rupanya diabet yang pernah dideritanya kambuh semenjak awal puasa ini. Apalagi di setiap musim bulan Ramadhan, aktivitas dan jadwal  Syaikh Maliky  semakin padat. Beliau kelelahan, dan pada saat klimaks berjidad inilah, di bulan suci menjelang  peringatan Nuzulul Quran ini Allah memanggil Asyyaikh Muhammad bin Alwy Al-Maliky ke hadirat-Nya. Beliau menghembuskan nafas terakhir pada hari Jum’at setelah shalat Subuh di Rumah Sakit Ar Rofi’ Makkah. Kepergian Abuya  itu mengejutkan banyak pihak. Sebab pada malamnya beliau masih sempat melaksanakan shalat taraweh di rumahnya. Sebelum dishalatkan di Masjidil Haram, Abuya sempat disemayamkan di rumahnya dan rumah anak tertuanya.

Gema takbir dan tahmid mengiringi pemakaman guru kaum sunni sedunia Syekh Muhammad Alawy Al Maliki. . Ribuan orang ikut mengantarkan dan memberikan penghormatan terakhir kepada beliau. Jenazah ulama besar yang juga menjadi panutan para kiai di Indonesia itu diusung secara bergantian dari Masjidil Haram menuju peristirahatan terakhir di pemakaman Umum Ma’la.

Ahlu Sunnah wal Jama’ah dunia telah kehilangan seorang ‘Allamah kaliber internasional. Selamat jalan Guru Besar Sayyid Muhammad Al-Malikiy.. semoga Allah membasahi makam Abuya dengan hujan Rahmat dan Maghfirahnya. Kami yyang engkau tinggalkan merasakan kesedihan yang mendalam, namun kami masih berharap sekiranya Allah segera menganugerahkan kepada kami Khalifah yang mengabdikan hidupnya untuk Ilmu sebagaimana yang telah Abuya lakukan selama ini

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *