1

Perlunya Selektif Memilih Teman

Posted by

Sy. Abu Musa RA memberitahukan, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Perumpamaan berkawan dengan orang baik dan berkawan dengan orang jahat, tak ubahnya seperti berkawan dengan penjual parfum dan dengan tukang tiup api di bengkel tukang besi. Apabila berkawan dengan penjual parfum adakalanya engkau diolesi parfum atau membelinya. Atau paling tidak engkau dapat mencium bau harumnya. Jika engkau berkawan dengan peniup api di bengkel tukang besi, kadang pikiranmu bisa terbakar, atau setidaknya engkau mencium bau busuknya.” (HR. Muslim)

Contoh mencari kawan yang baik itu seperti memilih kawan dari komunitas muslim. Ahli menjalankan ibadah yang wajib maupun yang sunnah. Ahli ilmu agama atau mengerti  aturan syariat sekaligus ahli mengamalkannya. Ahli shadaqah, zuhud dan wara’ (tidak terlalu mengejar gemerlapnya dunia). Ahli mengajak kepada yang ma’ruf dan memerangi kemunkaran. Tidak memakan barang syubhat (samar hukumnya) apalagi yang haram. Tidak senang menipu umat dengan mengasumsikan demi kemashlahatan bersama. Pandai menjalin dan merajut ukhuwwah dengan sesama muslim. Pandai bergaul dengan masyarakat sesuai aturan syariat, dan berakhlak  mulia lainya sebagaimana yang diajarkan dalam Alquran dan Hadits Rasulullah SAW.

Contoh yang salah dalam mencari kawan itu seperti memilih kawan dari komunitas orang-orang yang kafir terhadap ketuhanan Allah SWT dan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Malas beribadah baik yang wajib apalagi yang sunnah. Bodoh dan suka merendahkan terhadap ilmu syariat. Suka memutarbalikkan pemahaman ajaran Islam yang hakiki hingga berani menyalahi pemahaman mayoritas ulama Salaf. Senang mengolok-olok kesunnahan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW serta mencibir amaliyah syariat yang ditradisikan oleh para ulama Salaf. Anti terhadap gerakan amar ma’ruf dan nahi munkar dengan tuduhan negatif seperti tuduhan ekstrimisme terhadap praktek nahi munkar. Senang berebut jabatan maupun fasilitas demi mengeruk kekayaan untuk kepentingan pribadi dan golongan. Tidak takut memakan sesuatu yang haram apalagi hanya sekedar yang syubhat (samar hukumnya). Senang mengekspos kebohongan yang dikemas secara halus padahal bertujuan menipu umat Islam dalam banyak bidang.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Seseorang bisa terpengaruh oleh agama teman karibnya. Oleh sebab itu, perhatikanlah dengan siapa kalian bergaul.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Duduklah kalian dengan orang-orang besar (berakhlaq mulia), bertanyalah kepada ulama, dan bergaullah dengan orang-orang bijaksana.” (HR. Thabrani).

Orang besar dalam pandangan Islam adalah orang shalih yang selalu memberi contoh kebaikan bagi umat. Keshalihan yang menyebabkan seseorang itu menjadi besar dan tinggi maqamnya di sisi Allah, adakalanya tercapai dengan keilmuan agamanya yang dalam sekaligus dengan pengamalan yang sesuai tuntunan syariat. Atau dengan kezuhudan dan kewara’an dalam bingkai tashawwuf yang syar’i terhadap kehidupan duniawi. Atau karena kedermawanan dalam mensedekahkan hak miliknya demi kejayaan agama Islam dan kehormatan kaum  muslimin.

Sy. Ali RA menuturkan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ada empat perkara yang menjadi kebahagiaan seseorang, yaitu mendapat istri yang shalihah, anak-anak yang berbakti dan kawan-kawan yang shaleh, serta rezeki (mata pencahariannya) berada di negeri sendiri.” (HR. Ad-Dailami). KH Luthfi Bashori

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *