1

Adab Murid Kepada Guru

Posted by

Al Imam Ali bin Hasan al Aththas mengatakan :

ﺍﻥ ﺍﻟﻤﺤﺼﻮﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻔﺘﺢ ﻭﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻋﻨﻲ ﺍﻟﻜﺸﻒ ﻟﻠﺤﺠﺐ، ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺍﻻﺩﺏ ﻣﻊ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻭﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﺒﺮ ﻣﻘﺪﺍﺭﻩ ﻋﻨﺪﻙ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻚ ﺫﺍﻟﻚ ﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺷﻚ

“Memperoleh ilmu, futuh dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab2 batinnya), adalah sesuai kadar adabmu bersama gurumu. Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian pula kadar besarnya dirimu di sisi Allah tanpa ragu “.

Imam Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa,

“Ya Allah, tutuplah dariku kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yang menyampaikan kekurangan guruku kepadaku “.

Beliau pernah mengatakan dalam kitab At Tahdzibnya :

ﻋﻘﻮﻕ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻦ ﺗﻤﺤﻮﻩ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ ﻭﻋﻘﻮﻕ ﺍﻻﺳﺘﺎﺫﻳﻦ ﻻ ﻳﻤﺤﻮﻩ ﺷﻲﺀ ﺍﻟﺒﺘﺔ

” Durhaka kepada orang tua dosanya bisa hapus oleh taubat, tapi durhaka kepada ustadzmu tidak ada satupun yang dapat menghapusnya “.

Habib Abdullah al Haddad mengatakan

“Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali.”

Beliau juga berkata,

“Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada gurunya, “Perintahkan aku ini, berikan aku ini !”, karena itu sama saja menuntut untuk dirinya. Tapi sebaiknya dia seperti mayat di hadapan orang yang memandikannya”.

Para ulama ahli hikmah mengatakan,

“Barangsiapa yang mengatakan ” kenapa ?” Kepada gurunya, maka dia tidak akan bahagia selamanya”.

(Al Fataawa al Hadiitsiyyah : 56)

Para ulama hakikat mengatakan,

“70% ilmu itu diperoleh sebab kuatnya hubungan (batin,adab dan baik sangka) antara murid dengan gurunya

Syekh Abdullah Baros, salah seorang murid Habib Umar bin Abdurrahman Al Athos sohiburrotib sedang memijit gurunya bersama kawan-kawannya yang lain. Tiba-tiba seseorang berpakaian darwis lewat lalu Habib Umar berkata, “Itu adalah Nabi Khidr tidakkah kalian ingin menyusulnya?” Lalu semua murid Habib Umar pun berlarian menemui Nabi Khidr kecuali Syekh Abdullah Baros yang masih memijit Habib Umar al Athos. Lalu Habib Umar bertanya, mengapa engkau tidak ikut bersama kawan2mu menemui Nabi Khidr? Syekh Abdullah Baros menjawab, “Engkau sudah cukup bagiku wahai Guru”. Maka turunlah keridhoan Habib Umar kepada Syekh Abdullah Baros hingga beliau berkata, “Tidak kuterima fatihah seseorang kepadaku kecuali ia menyertakan Abdullah Baros”.

Al Habib Sholeh bin Mukhsin Al Hamid Tanggul (Shohibush Sholawat Mansub) rodliyallahuanhu berkata:

“Keberkahan seorang murid dari gurunya bukanlah karena ia menuntut ilmu atau pintar menghafal ilmu, akan tetapi seorang murid yang berkah, serta akan bersama gurunya dan baginda Nabi Muhammad saww. nanti di hari kiamat adalah seorang murid yang menjadikan semua umurnya habis berjuang untuk gurunya.”

Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad (Shohiburrotib) rodliyallahuanhu berkata,

“Jika engkau bersikap penuh ta’zhim (kepatuhan) dan penghormatan setinggi-tingginya terhadap syaikhmu, senantiasa menghargainya, percaya lahir dan batin bersedia mematuhi segala perintahnya, mencontoh akhlaknya, maka itulah tandanya engkau sedang mewarisi rahasia-rahasia dari syaikhmu dari syaikhnya dari syaikhnya terus bersambung sampai dari Baginda Nabi Rosulullah SAW, atau sebagian dari rahasia-rahasia tersebut, dan ia terus akan hidup di sisimu sesudah wafatnya syaikhmu. Inilah anugerah yang terbesar dari Allah SWT yang dapat menghantarkan kita selamat dan bahagia di dalam agama, dunia dan akhirat kelak.”

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *