10

Khalifah Salaf Di Kota Pasuruan

Posted by

Pada perjalanan sirah kali ini, kami sengaja mengangkat kisah riwayat hidup seorang Waliyullah yang tinggal di kota Pasuruan (Jawa Timur), yang selama masa hidupnya  hingga setelah wafatnya telah mewarnai kota ini dengan dzikir dan amalan-amalan ukhrowinya. Bahkan menjadikan kota Pasuruan memiliki adat kegiatan keagamaan yang tidak dimiliki kota lain, diantaranya :pembacaan Maulid Nabi SAW, yang diselenggarakan   di akhir sepertiga malam dan Khotmil Qur’an keliling pada malam sebelas sampai malam dua sembilan di bulan Ramadhan yang kian tahun  kian menambah siar Agama Allah ini.

Beliau adalah seorang sayyid yang mulia Abdulqadir bin Husain bin Segaf bin Ahmad bin Abdullah bin Alwiy bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrahman bin Ahmad Assyarif bin Abdurrahman bin Alwiy bin Ahmad (sohib maryamah) bin Alwiy bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladawilah bin Ali bin Alwiy bin Alfaqihil-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad (sohib-marbath) bin Ali (Kholi’ Qosam) bin Alwiy bin Muhammad bin Alwiy bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa Annaqib bin Muhammad Annaqib bin Ali Al’uraidhiy bin Ja’far Asshadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal-Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib dan putra dari sayyidah Fatimah putri Rasulillah SAW. Demikianlah nasab beliau bersambung dari para pembesar kepada para pembesar hingga sampai kepada pemimpin para nabi rasul Allah SWT, inilah yang disebut dengan “silsilah – Dzahabiah” ikatan rantai emas, sebagaimana dikatakan seorang penyair;

Sebuah nasab yang engkau yakini keluhuran dan keindahannya  ¨  yang telah menggantungnya bintang- bintangnya yang gemerlapan.

Beliau dilahirkan di siwun pada tahun 1320 hijriah, dan di sana pula beliau tumbuh dibawah asuhan dan bimbingan ayahandanya yang telah memberinya pendidikan terbaik sejak masa kecil hingga beliau tumbuh dewasa. Adapun ibunda beliau alhubabah Salma binti Husain bin Alwiy Assegaf adalah salah seorang wanita yang memiliki ketaqwaan dan kesalehan yang tinggi. Kasih sayangnya yang amat besar tercurah kepada putra semata wayan dari ayahnya (suami beliau) alhabib Husain ini.

Sebelum perkawinannya dengan habib Husain, beliau dinikahi oleh Alhabib Isa Alhabsyi dan dikaruniai seorang anak yang diberi nama Ahmad, tak lama kemudian rumah tangganya mengalami perceraian, yang kemudian Hubabah Salma dinikahi oleh habib Husain yang darinya beliau dikaruniai dua putri (Syarifah Fattum dan Syarifah Alawiyah) dan seorang putra yakni beliau Alhabib Abdulqadir yang kita kaji manaqibnya saat ini.

Dari hari ke hari beliau tumbuh dalam lingkungan ilmu dan ibadah, beliau mulai belajar Alqur’an dari Syaikh Hasan bin Abdullah Baraja’, dan dalam perkembangan pendidikannya telah ditangani oleh para Ulama’ dan Aulia’ dari kalangan Ahlul- fadhilah dan Makrifah yang hidup pada masa itu. Tak heran jika beliau tumbuh dewasa dengan jiwa yang lurus dan terpuji.

Selama hidupnya berpindah dalam menimba ilmu dari pribadi- pribadi yang tergabung dalam dirinya antara ilmu dan amal. Banyak sekali orang- orang yang bisa kita sebutkan sebagai para guru beliau, walau tak dapat kita sebutkan kesemuanya namun perlu kiranya kita ketahui sebagian dari mereka orang- orang yang telah berjasa dalam membentuk kepribadian beliau ini.

Adapun yang paling utama dari mereka adalah guru besar beliau, seorang pendidik bagi para penitih jalan menuju kemuliaan yaitu Al- allamah Al- habib Muhammad bin Hadi Assegaf. Juga Al-allamah Al-habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf, Al-habib Hasan bin Abdurrahman Assegaf, juga Alhabib Alwiy bin Abdullah bin Husain Assegaf.

Selain berguru kepada para pembesar tersebut, juga banyak mengambil ilmu dari para Ulama’ tarim, terutama dari Alhabib Abdul- Bariy bin Syaikh Aliydrus dan Alhabib Muhammad bin Hasan Aidid, semoga Allah merahmati mereka semua. Alhabib Muhammad yang kami sebutkan terakhir ini amat mencintai beliau disamping beliau sendiri juga memiliki ketergantungan hati yang sangat mendalam dengan gurunya ini.

Beliau menganggapnya sebagai “Syaikh- Alfath” (Guru pembuka). Pada suatu saat ketika sang guru sedang sakit menjelang ajalnya, Alhabib Abdulqadir mengunjunginya bersama sebagian murid dan para Ulama’ Siwun, dan ketika selesai berkunjung mereka semua berpamitan kepada habib Muhammad untuk pulang kembali ke siwun, beliaupun mengizinkan kepada para tamu itu.

Kecuali kepada sang murid kesayangan ini yang dimintanya untuk tetap tinggal. Maka pada malam itu Alhabib Abdulqadir menginap di tempat beliau, dan ternyata pada malam itu juga Ruh sang guru berpulang ke rahmat Allah. Demikianlah bukti kecintaan yang murni antara seorang guru dengan muridnya yang terbawa hingga di saat- saat terakhir menjelang ajalnya.

Cerita diatas telah cukup mewakili untuk mengungkap kasih sayang dan perhatian khusus yang beliau dapatkan dari semua gurunya, yang tak sempat kami torehkan dalam tulisan ini. Ringkasnya beliau telah menjadi tumpuan pandangan dari para gurunya yang telah melihat adanya tanda- tanda kebaikan, yang terwujud dalam bentuk Ilmu, Amal, Tawadhu’ dan Akhlaq yang terpuji.

Pada akhirnya beliau telah banyak mendapatkan Ijazah, Wasiat dan Ilbas dari mereka. baik ijazah yang bersifat umum maupun khusus.  Selama di Siwun, beliau banyak menghadiri majlis gurunya (Alhabib Muhammad bin Hadi Assegaf) yang diadakan di Zawiahnya di kota tersebut.

Beliau juga merupakan gambaran dari seorang yang memiliki kesungguhan dalam menuntut ilmu, serta banyak melakukan ibadah dan membaca wirid- wirid salafnya. Memiliki hati yang selalu bergantung pada masjid, gemar melakukan shadaqah sirr (secara tersembunyi), dimana beliau banyak bersedekah tanpa sepengetahuan siapapun selain Allah SWT.

Hatinya dipenuhi kecintaan yang sangat besar terhadap para kerabat, juga terhadap orang- orang yang salih, bahkan orang- orang awam. Senantiasa berprasangka baik kepada siapa saja yang ada dihadapannya. Salah seorang yang sangat mengenal beliau dan seringkali menghadiri majlisnya di siwun, tepatnya di sebuah tempat yang bernama “Baa salim” adalah Alhabib Abdulqadir bin Ahmad Assegaf.

Pada salah satu khutbahnya bertepatan dengan haul Alhabib Alwiy bin Segaf Assegaf, beliau berkata “sepeninggal Alwiy bin Segaf  muncul Jakfar bin Syaikhan, dan ketika ia wafat kini datang kepada kalian saudaraku ini (Habib Abdulqadir bin Husain Assegaf). Yang termasuk dari sebagian hamba- hamba Allah yang salih, yang jiwanya terbentuk dalam ketaatan, dan tanah jawa senantiasa makmur dengan kehadirannya.

Ia pergi ke sana ke mari dan tak pernah menolak permintaan orang untuk berdakwah dan menyampaikan Risalah agama, ia selalu membasahi lisannya dengan wirid dan dzikir kepada Allah SWT yang kesemuanya itu demi mengemban amanat dan memberi petunjuk kepada makhluq Allah”. Apa yang digambarkan ini telah cukup sebagai isyarat akan maqam beliau ra.

Ringkas cerita 1397 H beliau berkunjung ke haramain, dan kemudian beliau mengunjungi tanah airnya Siwun, hingga penduduk di sana sangat bergembira menyambut kedatangannya setelah sekian lama beliau tinggal di Pasuruan. Beliau bermukim di Siwun sekitar empat bulan, dan kembali menghidupkan apa yang telah hilang dari tradisi salafnya.

Lalu beliau kembali ke Saudi-Arabia pada awal bulan Sya’ban dan kembali ke Indonesia pada pertengahan bulan Sya’ban sekitar tahun 1399 H, di kota Pasuruan ini beliau lalui hari- harinya selama bulan Ramadhan seperti biasa dalam keadaan segar bugar, bahkan setelahnya beliau masih sempat berpuasa enam hari Syawwal.

Pada sore hari kesembilan di bulan Syawwal pada tahun tersebut, setelah selesai sholat isya’ dan menyelesaikan semua wirid dan dzikirnya, tiba- tiba beliau merasa sakit di ulu hatinya, pada saat itu beliau perintahkan untuk menghadirkan kawan karib beliau Alm Alhabib Ahmad bin Ali Assegaf, yang segera datang guna meringankan rasa sakit yang dideritanya.

Sesaat setelah habib Ahmad meminuminya madu dan menemani beliau di tempat pembaringannya, terdengar dari lisan beliau membaca ayat “laqod jaa akum rasulun min anfusikum” sampai akhir surat yang bersamaan dengan terlepasnya ruh beliau yang suci, Inna lillahi wa inna ialaihi rajiuun”.

Sungguh suatu musibah yang amat besar yang telah membuat hati menjadi tersentak dan airmata berlinang mengiringi kepergian beliau, semoga Allah senantiasa membasahi makam beliau dengan limpahan rahmatnya.

Berkata penghimpun manaqib ini (putra beliau) tidaklah aku himpun manaqib ini melainkan dengan tujuan agar kita dapat mengambil keteladanan, dan menyadarkan diri kita untuk bangkit dari kelalaian dan kebodohan, dan bermalas- malasan dalam menuntut ilmu. Wassalam.

 

Ust Abubakar Hasan Assegaf.

 

 

 

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *