4

Sunnah-Sunnah Seputar Shalat Jumat

Posted by

Kalau pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha ada salat Ied, maka di hari Jum’at ada salat Jum’at. Salat Jum’at ini wajib hukumnya bagi lelaki dewasa yang sehat dan tidak sedang bepergian. Jangan sampai meninggalkan salat ini karena ancamannya cukup keras. Rasulullah s.a.w. bersabda:

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُناً طُبِعَ عَلىَ قَلْبِهِ (رواه الحاكم)

”Barangsiapa meninggalkan salat Jum’at sampai tiga kali karena meremehkan, maka hatinya akan dijadikan keras.” (riwayat Al-Hakim)

Jadi, pergilah ke masjid untuk melakukan salat Jum’at. Lebih pagi lebih baik. Rasulullah s.a.w. bersabda:

مَنْ رَاحَ  ِإلَى اْلجُمْعَةِ فِي السَّاعَةِ اْلأُولَى فَكَأَنَّماَ قَرَّبَ بَدَنَةً وَ مَنْ رَاحَ  ِإلَى اْلجُمْعَةِ فِي السَّاعَةِ الثَانيِ فَكَأَنَّماَ قَرَّبَ بَقَرَةً وَ مَنْ رَاحَ  ِإلَى اْلجُمْعَةِ فِي السَّاعَةِ الثَّاِلثِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَ مَنْ رَاحَ  إِلىَ الْجُمْعَةِ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَ مَنْ رَاحَ  ِإلَى اْلجُمْعَةِ فِي السَّاعَةِ اْلخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بِيضَةً فَإِذَا خَرَجَ اْلِإمَامُ طُوِيَتِ الصُّحُفُ وَ رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ  وَ اْجتَمَعَتِ اْلمَلاَئِكَةُ عِنْدَ اْلِمْنبَرِ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

”Barangsiapa pergi untuk salat Jum’at pada jam pertama, maka dia seperti berkorban seekor unta. Barangsiapa pergi untuk salat Jum’at pada jam kedua, maka dia sama dengan berkorban seekor sapi. Barangsiapa pergi untuk salat Jum’at pada jam ketiga, maka dia sama dengan berkorban seekor kambing  gibas yang bertanduk. Barangsiapa pergi untuk salat Jum’at pada jam keempat, maka dia sama dengan berkorban seekor ayam. Barangsiapa pergi untuk salat Jum’at pada jam kelima, maka dia sama dengan berkorban sebutir telur. Bila imam telah keluar, maka buku telah ditutup dan pena-pena telah diangkat. Para malaikat pun berkumpul di dekat mimbar untuk mendengarkan zikir.”

Kalau Anda pergi agak siang, sebaiknya Anda mandi lagi, supaya badan bersih dari keringat. Berjalanlah dengan tenang dan sopan. Jangan terburu-buru. Kalau Anda pergi ke masjid dengan menaiki kendaraan, berkendaralah dengan sopan dan tenang,tidak kebut-kebutan.

Masuklah ke dalam masjid dengan sopan dan penuh ketenangan, jangan berlari.  Usahakan untuk bisa menempati shaf atau barisan paling depan. Rasulullah s.a.w. bersabda:

ثَلاَثٌ لَوْ يَعْلَمُ الناَّسُ مَا فِيهِنَّ لَرَكَضُوا اْلِإِبلَ: َاْلأَذَانُ وَ الصَّفُّ اْلأَوَّلُ وَ اْلغَدْوُ إِلىَ اْلجُمْعَةِ

“Tiga hal yang jika orang-orang tahu fadhilah di dalamnya, pastilah mereka mengebut untanya (guna berebut paling dulu untuk mendapatkannya): azan, shaf pertama dan pagi-pagi pergi ke salat Jum’at. “

Paling tidak, jangan membiarkan shaf di depan Anda renggang. Hanya saja, perlu diperhatikan etikanya. Anda harus tetap menjaga sopan santun. Jangan sampai Anda melangkahi pundak-pundak orang. Mintalah mereka memberi jalan kepada Anda dengan sedikit merenggang.

Melangkahi pundak orang, yakni dengan mengangkat kaki setinggi pundak orang yang sedang duduk, hukumnya sangat makruh. Nabi s.a.w. pernah melihat orang yang melakukan hal itu. Beliau langsung menegur, “Duduklah kamu! Kamu sudah terlambat, dan sekarang kamu mengganggu orang lain.”

Etika lainnya, jangan berjalan di depan orang yang sedang salat. Berdiri atau berjalan di depan orang yang sedang salat itu terlarang. Nabi s.a.w. bersabda, “Andaikan orang yang melintas di depan orang salat tahu betapa besar dosanya, niscaya diam berdiri selama empat puluh hari lebih baik baginya daripada lewat di depan orang salat.”

Jika tidak mendapat shaf pertama, pilihlah tempat di belakang tembok atau tiang. Dengan begitu, ketika Anda salat sunnah, orang tidak melintas di depan Anda secara langsung, tapi terhalang tembok ataupun tiang.

Begitu sudah mendapat tempat, jangan duduk dulu sebelum melakukan salat sunnah tahiyatul masjid. Boleh dua rakaat, boleh pula empat rakaat dengan satu salam. Tapi jika Anda datang terlambat, dan imam sudah naik ke atas mimbar, Anda tidak boleh salat sunnah lebih dari dua rakaat. Dua rakaat itu pun harus dipercepat, tanpa mengabaikan thuma’ninah tentunya. Salat lebih dari dua rakaat haram hukumnya, walaupun Anda tidak mendengar khutbah imam karena tempat duduk Anda jauh darinya.

Setelah itu, tunggulah waktu zhuhur tiba, dengan menjalani salat sunnah mutlak, wirid, membaca Al-Quran atau apa saja. Bila azan berkumandang, hentikan dulu kegiatan Anda. Jawablah azan, lanjutkan dengan doa azan.

Setelah itu, lakukan salat sunnah qabliyah. Boleh dua rakaat, boleh pula empat rakaat. Tapi, bila imam keburu keluar atau berdiri untuk naik ke atas, semuanya harus dihentikan. Stop salat, stop wirid, stop membaca Quran. Apalagi bercakap! Sekali lagi, JANGAN BERCAKAP-CAKAP di kala imam sudah naik ke atas mimbar. Tiga imam mazhab, Abu Hanifah (Imam Hanafi), Malik bin Anas dan Ahmad bin Hanbal, menghukumi haram bercakap kala imam berkhutbah. Ini berdasarkan hadis:

مَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ وَ اْلِإمَامُ يَخْطُبُ أَنْصِتْ فَقَدْ لَغاَ وَ َمنْ لَغَا فَلاَ جُمْعَةَ لَهُ

”Barangsiapa berkata pada temannya “Ssst diam!” di kala imam sedang berkhutbah, maka sungguh dia telah berkata tiada guna (omong kosong). Barangsiapa berkata kosong, maka tidak ada Jum’at baginya. ”

Imam kita, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, memiliki dua pendapat: haram dan makruh. Haram adalah pendapatnya yang lama (qawl qadim), dan makruh adalah pendapatnya yang baru (qawl jadid).

Setelah khutbah, tibalah waktunya salat Jum’at. Berbarislah dengan rapi, lurus dan rapat. Jika Anda menjadi imam salat, bacalah surah Al-Jumu’ah pada rakaat pertama dan Al-Munafiqun pada rakaat kedua. Atau, surah Al-A’la dan Al-Ghasyiyah. Itulah yang dilakukan oleh Nabi s.a.w.

Usai salat, sebelum berbicara, bacalah Al-Fatihan, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas, masing-masing tujuh kali. Diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a., Nabi s.a.w. bersabda, “Barangsiapa membaca surah Al-Fatihah, Qulhuwallahu ahad dan Mu’awwidzatain masing-masing tujuh kali setelah imam bersalam pada hari Jum’at dan sebelum dia mengubah posisi duduknya, akan diampuni dosanya yang lalu dan akan datang serta diberikan padanya pahala tiap-tiap orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Berikutnya, ucapkan tasbih, hamdalah dan takbir, masing-masing 33 kali, diakhiri dengan bacaan:

لاَ اِلَهَ ِإلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ, لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلىَ كُلِّ شَيْئٍ قَدِيرٌ

Kemudian bacalah doa berikut:

اَللَّهُمَّ يَا غَنِيُّ ياَ حَمِيدُ يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيدُ يَا رَحِيمُ ياَ وَدُودُ أَغْنِنيِ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَ بِطاَعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Ya Allah, wahai Dzat Mahakaya, Dzat Terpuji, Dzat Pencipta, Dzat yang mengembalikan kehidupan, Dzat Mahakasih dan Mahasayang, cukupkan aku dengan rezeki halal-Mu dari rezeki haram-Mu, dengan taat pada-Mu daripada durhaka pada-Mu, dengan kemurahan-Mu dari selain Kamu. “

Kata ulama, barangsiapa membiasakan membaca doa ini setiap habis salat Jum’at, Allah akan mencukupi dia sehingga dia tidak akan  butuh pada makhluk-Nya dan memberinya rezeki dari sumber yang tidak disangka-sangka.

Kemudian salatlah dua rakaat ba’diyah Jum’at. Bisa pula Anda tambah dua rakaat lagi sehingga menjadi empat rakaat. Walau cuma sedikit, pada hari yang sangat mulia ini, kita juga dianjurkan untuk bersedekah……!

Hamid Ahmad

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *