2

Madrasah Fathimah

Posted by

“Fathimah adalah bagian dari diriku..”, sabda baginda Muhammad SAW.

Siapa yang tidak mengenal Sayyidah Fathimah sebagai putri Rasulullah SAW, sosok yang wajah, gerak-gerik dan akhlaq pribadinya paling mirip dengan Nabi SAW ? Akan tetapi, kalimat dari hadits : “Fathimah adalah bagian dariku..” bukan sekedar pemberitahuan bahwa Fathimah adalah putri beliau, karena semua orang sudah tahu. Kalimat itu adalah bukti kecintaan Rasulullah SAW kepada Fathimah. Bukti kedudukan dan ketinggian kemuliaan Fathimah disisi Rasulullah SAW… Lantas sebagai penguat pernyataan itu ialah kalimat selanjutnya : “..Menyenangkan aku apa saja yang membuatnya senang, dan menjadikan aku marah apa saja yang membuatnya marah..” Keridhoan dan ketidakridhoan Rasulullah SAW ada ditangan Fathimah…

Sayyidah ‘Aisyah pernah suatu kali melakukan sesuatu yang membuat para shahabat yang saat itu sedang duduk bersama Nabi SAW menjadi heran dan terkejut. Rasulullah SAW yang memahami jiwa ‘Aisyah dan keheranan shahabatnya, dengan bijaksana bersabda : “Ibunda kalian sedang cemburu.. “  Maka, para shahabat kemudian tersenyum.. Lihatlah kalimat Rosulullah : “Ibunda kalian” Tentu saja Rosulullah tidak hendak bermaksud Ibunda dalam arti : wanita yang melahirkan kita, akan tetapi Ibunda Maknawi yang berarti : wanita teladan bagi kita dalam seluruh aspek kehidupan, sebuah Madrasah pendidikan, pondok pesantren, cermin bagi segenap yang mengaku dirinya muslim, sebagaimana sabda Nabi yang lain : “Seorang ibu adalah madrasah.”

Maka, madrasah siapa yang lebih hebat dibanding madrasah Muhammadiyah, yang Kepala Negaranya adalah Muhammad bin ‘Abdillah SAW dan Ibu Negaranya adalah Ibunda-ibunda kaum mukminin (Ummahatul Mu’minin) ? Dan putri siapa yang lebih hebat hasil didikannya dibanding Sayyidah Fathimah, putri Muhammad Kekasih Robbil ‘alamin ?

Fathimah adalah madrasah bagi wanita yang mengharapkan keridhoan dan kecintaan Allah dan Rosul-Nya. Tengoklah bagaimana kesucian diri, pakaian, lisan, perbuatan dan hati terkumpul pada beliau ra. Setinggi apa kedudukan penghambaannya kepada Allah (ibadah), perilaku sehari-harinya (mu’amalah) dan keharuman budipekertinya (akhlaq), dan pendidikan anak yang diajarkannya (tarbiyah).

Kemuliaan Fathimah tidak lantas menjadikan Fathimah terlena dan berleha-leha dan menganggap dirinya telah mempunyai tiket gratis masuk surga.. Kemuliaan Fathimah menjadikan Fathimah serius belajar kepada ayahandanya, lalu berusaha mengamalkan dalam kehidupannya.. Ketinggian Fathimah membuatnya makin tawadhu’, berupaya menjadi tauladan terbaik bagi generasi kaum wanita, berzuhud dari dunia dan tipu dayanya, banyak mencucurkan air mata, merasa khawatir terhadap nasib dirinya, terlebih setelah suatu saat ayahnya sambil menangis bersabda kepadanya : “Beramallah untuk dirimu sendiri wahai Fathimah, sesungguhnya aku tidak dapat  menyelamatkanmu sedikitpun dari siksa api neraka..!”

Orang yang mengenal siroh Fathimah akan mendapati beliau adalah wanita yang tekun beribadah, dan banyak menangis karena takut kepada Allah. Bahkan, disetiap Jum’at sore ba’da ashar, beliau menutup tirai mihrobnya, beribadah serta membaca sholawat serta salam kepada ayahnya SAW hingga datang waktu maghrib. Sehingga para salaf menyebut saat itu sebagai “Sa’ah al-Fathimiyyah”  Pelajarilah bagaimana kepedulian Fathimah akan syari’at Islam, perjuangan beliau dalam rumah tangga, dalam menunaikan hak-hak suaminya, bagaimana kasih sayangnya terhadap ayahandanya, mengurusi segala keperluan Nabi SAW sehingga Fathimah dijuluki : “Ibu dari ayahnya.”

Fathimah adalah pelopor keberadaan keranda didalam sejarah Islam, karena kekhawatiran bentuk tubuh beliau akan diketahui orang lain jika hanya ditutupi kain saja tanpa keranda. Fathimah begitu menjaga kesucian dirinya dengan sempurna disaat kematiaannya, lalu kiranya bagaimana pemeliharaan aurot dan kesucian  beliau disaat hidupnya ?

Telah masyhur riwayat tentang Sayyidah Fathimah yang tanpa menunda-nunda melepas kalung emasnya, menjualnya, lantas hasilnya dibelikan seorang budak, lalu budak itu dibebaskan, setelah Fathimah tahu bahwa Rosulullah tidak menyukainya memakai kalung tersebut.. Beliau dengan kesempurnaan akal dan imannya lebih memilih keridhoan ayahandanya daripada kesenangannya memakai sesuatu yang mubah..

Tarbiyah Fathimah adalah tarbiyah sempurna dari ayahnya. Dan tentu saja Fathimah  mendidik Sayyidina Hasan dan Husein dengan didikan seorang Ibu yang hakiki, yakni mendidik aspek rohaniyah dan orientasi akhirat anak-anaknya, bukan hanya dengan kasih sayang yang semu, mainan, makanan, kedudukan duniawi dan banyaknya harta.

“.. dan sesungguhnya seluruh hubungan kekeluargaan akan terputus, kecuali sebab-sebabku, nasabku dan hubungan denganku karena sebab perkawinan.. “

Pahamilah hadits mulia diatas. Setelah menjelaskan kedudukan putri beliau SAW disisi beliau, menjadikan keridhoan beliau didalam keridhoan Fathimah, Rasulullah SAW melanjutkan dengan pentingnya menjaga tali hubungan dengan beliau SAW, karena hubungan ini satu-satunya hubungan yang tak akan putus dihari qiyamat..

Maka hendaknya kita memelihara tali hubungan kita dengan Fathimah. Jagalah nasab banat Fathimah. Masuklah ke madrasah Fathimah. Contohlah ibadah, akhlaq, tarbiyah, mu’amalah, dan pakaian Fathimah.. Jadikan Fathimah sebagai idola, pusat panutan, kiblat teladan untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat kita. Senangkan Fathimah dengan mencintainya.  Sedangkan syarat mahabbah adalah mengikuti dan mencocoki jalannya.. marilah sejak saat ini kita menapaki jalan Fathimah, jalan yang disitu terdapat keridhoan al-Mushtofa SAW, yang puncaknya adalah keridhoan Allah swt..

-wallahu a’lamu bish-showab-

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *