images

Pemimpin Yang Kelewat Sederhana

Posted by

Alkisah, semenjak menjadi pemimpin Umar bin Al-Khattab tidak punya waktu lagi untuk berdagang. Hari-harinya disita oleh urusan pemerintahan dan umat. Maka pada suatu hari ia berbicara di depan rakyatnya, “ Wahai saudara-saudara. Aku telah kalian percayai untuk memangku jabatan selaku khalifah, yang membuatku tidak bisa lagi mencari nafkah bagi keluargaku. Jadi, bagaimana pendapat saudara-saudara, apakah anak-istriku akan dibiarkan terlunta-lunta?

Para sahabat utama, seperti halnya yang lain-lain, terdiam sambil memutar akal. Akhirnya disetujui untuk memberikan imbalan serta tunjangan bagi Khalifah, diambilkan dari Baitul Mal.

Tadinya, jumlah yang diusulkan para sahabat utamanya hampir seimbang dengan gaji yang biasa diberikan kepada para raja di negeri Ajam. Ali bin Abi Thalib tidak setuju dengan cara berdiam diri sejak mula pertama.

Umar lalu bertanya, “Bagaimana pendapatmu, Ali? Dari tadi hanya engkau yang tidak bicara?” Dengan tegas Ali menjawab, ”Saya tidak suka seorang khalifah hidup berlebihan seperti kaisar dan raja-raja.”

Beliau menjawab gembira, “Bagus, engkau telah mewakili pendapatku. Aku minta tunjangan bagiku hanya cukup untuk hidup sederhana.”

Demikianlah akhirnya hasil keputusan musyawarah. Khalifah memperoleh imbalan yang pas-pasan saja sehingga Belaiu dapat dengan tenang memimpin pemerintahan. Banyak kemajuan yang telah tercapai selama periode Umar. Kehidupan rakyat cukup makmur. Wilayah kekuasaan Madinah meluas sampai ke Mesir. Pendapatan negara kian membesar dengan penggalian sumber-sumber penghasilan dari berbagai pajak, zakat, dan perdagangan antarnegara. Namun, Umar bin Khattab dan keluarganya tetap compang-camping menurut ukuran para kepala negara lainnya.

Ali bin Abi Thalib yang mula-mula mencetuskan hal itu kepada para sahabat utama. Yakni agar tunjangan bagi khalifah dinaikkan dua kali lipat. Usul ini disetujui, terutama Usman bin Affan amat mendukung , sebab ia sering berhubungan dengan para utusan mancanegara yang serba mewah.

Namun, mengingat waktu itu beliau memiliki pendirian yang kuat, mereka tidak berani menyampaikan hal itu kepada Umar sendiri. Mereka bermufakat untuk mendatangi Khafsah, putri Umar, Janda Rasulullah SAW.

Melalui Kahfsah niat itu diungkapkan, dan supaya disampaikan kepada ayahnya. Dengan pesan, agar jangan dikatakan nama-nama para sahabat yang mempunyai prakarsa tersebut.

Dugaan para sahabat ternyata benar beliau marah-marah waktu Khafsah mengemukakan usul kenaikan tunjangan itu kepadanya. Beliau  berkata,”Kalau aku tahu nama-nama orang yang mempunyai pikiran beracun itu, akan kudatangi mereka satu persatu, dan kugampar dengan tanganku.”

Kemudian beliau menatap anaknya Khafsah dan langsung bertanya, ”Khafsah selama engkau menjadi istri Rasulullah, makanan apa yang beliau santap?” Kahfsah menunduk. Matanya berkaca-kaca. Ia teringat akan kehidupan Rasulullah yang kelewat sederhana. Dengan terbata-bata ia menjawab, ”Roti tawar yang keras, dan untuk memakannya harus dicelupkan ke dalam air minumnya.”

Pakaian apa yang paling mewah bagi beliau wahai Khafsah ?” tanya ayahnya lagi. Ia makin tertunduk. “ Selembar jubah berwarna kemerahan karena sudah luntur. Itulah yang dibangga-banggakannya untuk menerima tamu-tamu kehormatan.”

“Apakah Rasulullah diatas tilam yang empuk?” Khafsah menangis. “Tidak!” desisnya. “Rasulullah hanya beralaskan selembar selimut tua. Kalau musim panas dilipatnya menjadi empat lapis supaya agak nyaman ditiduri. Bila musim dingin tiba, dilipatnya menjadi dua, untuk alas dan penutup badannya.”

Umar bin Khattab lalu berikrar, dihadapan putrinya Khafsah,  “Aku, Abubakar, dan Rasulullah adalah tiga musafir yang menuju cita-cita yang sama. Karena itu harus menempuh jalan yang sama. Musafir pertama telah tiba di tempat tujuan sebagai pelopornya. Yakni Rasulullah SAW.  Musafir kedua telah mengikuti jalannya dengan seksama sehingga ia berkumpul bersama musafir yang pertama. Dia adalah Abubakar. Apakah aku akan menjadi sebagai musafir ketiga , jika aku tidak meniti jalan yang sama dan akan  dapat bergabung dengan mereka? Tidak, Khafsah. Katakan kepada para sahabat yang mengusulkan kenaikan gajiku itu, bahwa Umar bin Khattab lebih memilih berkecukupan di akhirat daripada bermewah-mewah dalam fatamorgana.”

Sebuah kisah yang menarik tentang budi luhur salah seorang sahabat utama Rasulullah Saw, Khalifah Umar bin Khattab. Dia adalah seorang pemimpin yang selalu menunjukan kesederhanaan dan menyebarkan kebajikan serta membimbing manusia ke jalan yang benar. Realita yang dicontohkan oleh salah seorang sahabat utama Rasullulah SAW. Kekuatan iman dapat menimbulkan berbagai hal yang menajubkan, sulit untuk dicerna oleh pemikiran manusia. Semoga kisah ini dapat kita jadikan renungan di kala kita  menjadi seorang pemimpin.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *