index

Indonesia Menuju Masyarakat Madani

Posted by

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (Al A’raaf : 96)

 

Terbentuknya masyarakat adil dan makmur memang menjadi dambaan semua orang, tetapi kapankah masyrakat adil dan makmur itu akan terbentuk ? dunia globalisasi pada saat ini malah menghadapi persoalan kemiskinan yang sangat serius. Di Indonesia dari mulai orde baru sampai dengan krisis moneter (tahun 1997) diperkirakan masih terdapat 23 juta penduduk berada di bawah garis kemiskinan. Berikutnya setelah ditimpa krisis, jumlah itu malah melonjak drastis menjadi 118 Juta.

 

Sekarang, dunia telah bersolek dengan perhiasannya bersamaan dengan telah keluarnya segala potensi dan sumber daya alam, berbekal otaknya manusia telah membuat seluruh isi bumi bermanfaat. Adakah yang sekarang tidak bisa dimanfaatkan ? tinja pun di Jepang didaur ulang, dan berbagai macam bentuk pemanfaatan yang lain. Dengan fakta ini kita bertafakkur betapa bumi ini tidak diciptakan dengan sia-sia bagi kelangsungan hidup manusia. Di sisi lain muncul ironi mengapa disaat bumi dengan segala potensi dan sumber daya alamnya telah keluar, wujudnya masyarakat adil dan makmur belum juga menjadi kenyataan ?

 

Secara historis jika kita bercermin pada masa Rasulullah SAW dimana ketika itu masyarakat jahiliyah direformasi ke arah masyarakat madani, yaitu masyarakat yang seluruh sistemnya berdasarkan nilai-nilai islam. Masyarakat madani merupakan masyarakat yang berbeda dengan masyarakat manapun baik keberadaannya maupun karakternya. Ia merupakan masyarakat yang 1) robbani ; 2) insani; 3) akhlaqi dan 4) masyarakat yang berlaku seimbang (tawazun).

 

Dengan itu kiranya ada tuntunan bagi umat islam untuk mendirikan masyarakat seperti ini sehingga mereka bisa memperkuat agamanya, membentuk kepribadian dan bisa hidup di bawah naungan-Nya dengan kehidupan islami yang sempurna, suatu kehidupan yang diarahkan oleh aqidah islamiyah dan dibersihkan dengan ibadah, dituntun oleh pemahaman yang shahih, digerakkan oleh semangat yang menyala, terikat dengan adab islami, serta diwarnai oleh nilai-nilai islam, diatur oleh hukum Islam dalam perekonomian, seni, politik dan seluruh sendi kehidupannya. Masyarakat inilah yang pernah dibangun oleh Rasulullah SAW di Madinah, suatu masyarakat yang benar-benar ideal dan belum ada yang bisa menandingi pada zamannya.

 

Kemudian yang dimaksud dengan masyarakat madani yang tegak di atas nilai-nilai Robbani adalah masyarakat yang tegak di atas aqidah islam yaitu “laa ilaha illallah wa Muhammad Rasulullah. Makna dari ungkapan tersebut adalah bahwa masyarakat benar-benar memuliakan dan menghargai aqidah itu, dan berusaha memperkuat dari dalam akal dan hati, serta dengan aqidah itu dimiliki komitmen yang teguh dengan melepas setiap ikatan yang bertentangan dengan aqidah Islam. Sesungguhnya aqidah islamiyah dengan segala rukun-rukunnya adalah dasar yang kokoh untuk membangun masyarakat madani. Oleh karena itu bangunan yang tidak tegak di atas aqidah Islam akan hancur. Lebih buruk lagi jika bangunan itu nampak islami namun pondasinya bukan aqidah Islam, maka bangunan itu bakal hancur seluruhnya dan menimpa seluruh yang ada di dalamnya.

 

Lalu yang dimaksud dengan masyarakat madani yang tegak di atas nilai kemanusiaan (al-qiyam al-insani) adalah masyarakat yang tegak berdasarkan penghormatan terhadap hak-hak asasi dan kemuliaan manusia. Baik kebebasan kemerdekaannya, nama baik, eksistensinya, kehormatannya juga memelihara darah, harta serta kerabat dan keturunannya dalam kedudukan mereka sebagai individu masyarakat. Rasulullah bersabda “orang-orang Islam itu darahnya saling menyuplai, yang lemah di antara mereka berusaha membebaskan tanggung jawabnya dan yang kuat di antara mereka berusaha menyelamatkan yang lemah. Mereka adalah satu tangan (kekuatan) untuk menghadapi pihak-pihak selain mereka (musuh-musuh mereka); yang kuat membantu yang lemah dan yang cepat menolong yang lambat “ (HR Abu Dawud & Ibnu Majah).

 

Inilah nilai-nilai kemanusiaan yang harus tegak di atas masyarakat madani dan jika itu terjadi maka perampasan hak dan pembunuhan serta pelanggaran atau yang lain, masyarakat itu diakibatkan telah melakukan kedholiman. Dan jika kedholiman itu diakibatkan oleh penguasa (sistem) maka masyarakat madani harus mencegah kedholiman itu melalui amar ma’ruf nahi munkar supaya tidak menjadi semakin menyebar laksana ungkapan al-bala’ yaummu (bencana itu mewabah) sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang berbunyi “Sesungguhnya manusia apabila melihat orang yang dholim lalu mereka tidak memegang kedua tangannya (menangkap dan mencegahnya) maka Allah SWT akan meratakan adzab kepada mereka dari sisi-Nya “ (HR. Abu Dawud Tirmidzi, Nasa’i)

 

Adapun akhlaq merupakan unsur urgensi yang turut berperan dalam membentuk masyarakat madani, karena masyarakat yang tidak berakhlaq (amoral) akan melahirkan masyarakat yang separatis. Oleh karena itu masyarakat madani sangat menekankan perbaikan hubungan antara manusia dengan saling menolong, saling mengasihi, bersikap sabar dan tawakkal dalam menghadapi setiap ujian dari Allah serta semakin mendekatkan diri padaNya dengan selalu melakukan kebajikan atau mengikat diri pada hukum syara’.

 

Masyarakat madani juga masyarakat yang tegak pada prinsip tawazun yaitu keseimbangan. Suatu masyarakat yang mementingkan akhirat tapi juga tidak melupakan bagiannya di dunia. Oleh karena itu Islam memerintah setiap individu muslim yang berada pada masyarakat madani untuk berlaku adil terhadap dirinya dengan menyeimbangkan antara haknya dengan kewajibannya terhadap sang Khaliq dan hak-hak orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah kepada Abdullah bin Amr ketika mengurangi haknya sendiri yaitu dengan terus menerus berpuasa di siang hari dan sholat di malam hari,. “Sesungguhnya bagi tubuhmu kamu punya hak  (untuk beristirahat) dan sesungguhnya bagi kedua matamu juga punya hak dan untuk orang yang menziarahimu juga kamu punya hak “ (muttafaqun alaih)

 

Dari uraian di atas, cukup jelas bahwa kondisi masyarakat di dunia, terlebih di Indonesia telah mengabaikan prinsip-prinsip masyarakat madani yang pernah ditegakkan oleh Rasulullah, sahabat-sahabatnya dan para tabi’in. Untuk itu umat Islam memiliki tugas signifikan untuk mengantarkan kembali masyarakat ini ke arah masyarakat yang madani dengan melalui thoriqoh-thoriqoh yang juga dilakukan oleh Rasulullah dimulai dari pembinaan. Masyarakat madani itu akan tampak pada ketertundukan mereka terhadap supremasi hukum Islam dimana al-Quran meletakkan prinsip-prinsip dasar dalam mengatur dan mengendalikan masyarakat muslim. Prinsip-prinsip tersebut adalah justice (keadilan), deliberation (syura), equality (persamaan), dan freedom (kebebasan) dan orientasi politik Islam menurut al-Quran menekankan pada tauhid, syari’ah dan program ketaqwaan.

 

Dengan demikian kita bisa yakin akan terbentuknya masyarakat yang adil dan makmur untuk kesekian kalinya manakala dunia beralih pada system Islam dan dikelola oleh orang-orang yang shaleh dengan kembalinya sistem Khilafah Islamiyah, entah sebelum imam Mahdi turun atau sesudahnya. Peralihan itu pada saatnya akan berjalan begitu meyakinkan, sesuai dengan panji-panji Allah SWT, lebih-lebih potensi dan sumber daya alam telah tergarap sempurna. Akhirnya dari kita hendaknya mempunyai andil dalam proses peralihan ini, walaupun berperan ibarat sehelai rambut, amin.

Oleh :Ade Fattah Hamzah *

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *