Bible-Manuscript

Muhammad In The Bible II

Posted by

MUHAMMAD IN THE BIBLE PART II

Bible-Manuscript

Delapan argumentasi yang dipaparkan oleh Ahmad Deedat yang kami muat pada majalah CN edisi 145 yang lalu membuat Dominee tanpa daya menyetujuinya. Namun sebenarnya ramalan itu baru membuktikan satu poin saja, yakni “ Seperti Kamu- Seperti Musa.” Masih ada beberapa poin yang tidak kalah penting dalam ramalan tersebut. Secara lengkap, ramalan atau nubuat tersebut berbunyi:

“Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.” (Ulangan 18: 18)

Di antara Saudara Mereka

“Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperli engkau ini…” (Ulangan 18: 18)

Penekanan ayat tersebut adalah pada kata-kata “Dari antara saudara mereka.” Musa dan kaumnya, yakni orang-orang Yahudi, merupakan  satu kesatuan ras dan ‘saudara’ mereka yang dimaksud ayat tersebut, tanpa ragu-ragu adalah bangsa Arab. Bagaimana mugkin bangsa Arab merupakan “Saudara” yang dimaksud ayat ini?

Nabi Ibrahim (Abraham) mempunyai 2 orang istri, Sarah dan Hajar. Hajar melahirkan seorang anak bernama Ismail, putra pertamanya.

Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismail. (Kejadian 16:15)

“Dan, Ibrahrim memanggil Ismail, anaknya…. ” (Kejadian 17: 23).

“Dan, Ismail, anaknya, berumur 13 tahun ketika dikerat kulit khatannya.” (Kejadian 17: 25).

Sampai usia 13 tahun Ismail adalah satu-satunya anak dari benih Ibrahim, kemudian Tuhan memberi Ibrahim anak laki-laki melalui Sarah yang diberi nama Ishak yang sangat muda dibandingkan Ismail.

Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya. Kejadian 21:5

Ismail dan Ishak adalah anak dari ayah yang sama yakni Ibrahim atau Abraham. Mereka kakak beradik. Karena itu, anak dari salah seorang mereka adalah saudara dari anak yang lain. Keturunan Ishak adalah bangsa Yahudi dan keturunan Ismail adalah bangsa Arab. Jadi bangsa Arab dan Yahudi bersaudara satu sama lain.

Anak-anak Ishak adalah saudara dari keturunan Ismail. Artinya, Nabi Muhammad SAW berasal dari saudara bangsa Israel karena dia adalah keturunan anak Ismail putra Ibrahim. Dan ini tepat sekali dengan ramalan tersebut: “… dari antara saudaramu” (Ulangan 18: 18).

Secara garis besar, ramalan tersebut menyebutkan 2 syarat bagi nabi yang akan datang.

Pertama, tidak berasal dari anak-anak Ishak atau di antara mereka sendiri.

Kedua,  berasal dari antara saudara mereka yakni keturunan Ismail.

Kedua syarat tersebut dipertegas oleh Kitab ulangan pasal 34: 10 yang berbunyi :

“Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel.”

Kedua syarat tersebut terdapat pada Nabi Muhammad SAW yang berasal dari saudara mereka, yakni bangsa Arab.

Bantahan Orang Kristen

Yang dimaksud keturunan Abraham adalah Ishak bukan Ismail sebagaimana bunyi Kejadian 21:12

Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.

Jawaban

Kitab Kejadian 21:12 diawali oleh rasa kekhawatiran Sara tentang hak waris. Sara tidak  menginginkan Ismail menjadi ahli waris.

Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” (Kejadian 21:10)

Sangatlah tidak tepat menggunakan kejadian 21:12 sebagai landasan untuk mengatakan bahwa Ismail bukan anak Abaraham, karena bertaburan ayat yang menyatakan bahwa Ismail juga anak Abaraham:

Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael. (Kejadian16:15)

Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya. Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya. Dan Ismael, anaknya, berumur tiga belas tahun ketika dikerat kulit khatannya. Pada hari itu juga Abraham dan Ismael, anaknya, disunat. (Kejadian 17 :23-27)

Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela, di padang Efron bin Zohar, orang Het itu, padang yang letaknya di sebelah timur Mamre. (Kejadian 25:9)

Firman Dalam Mulut

“…Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya…”(Ulangan 18: 18)

Ketika itu Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun. Ia berada dalam sebuah gua kira-kira 3 mil utara kota Makkah. Hari itu adalah malam ke 17 bulan Ramadhan, kemudian datanglah malaikat Jibril seraya berkata:

“Bacalah!” Nabi Muhammad SAW ketakutan dan dalam keadaan kebingungan menjawab:

“Saya tidak dapat membaca!” Malaikat memerintahkan untuk kedua kalinya dengan hasil yang sama. Pada yang ketiga kalinya malaikat menuntunnya. Barulah Nabi Muhammad SAW mengerti apa yang harus dilakukannya, mengulangi untuk berlatih dan dia mengulangi kata-kata yang ditaruh dalam mulutnya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Selama 23 tahun dalam kenabiannya, kata-kata tersebut ‘ditaruh dalam mulutnya’ dan beliau mengucapkannya dan ketika jumlahnya bertambah, kata-kata suci tersebut dicatatnya pada daun, kulit dan tulang belikat hewan, serta di dalam hati para sahabatnya. Kata-kata ini disusun dalam urutan seperti yang dapat kita temukan saat ini dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Kata-kata wahyu tersebut benar-benar ditaruh di dalam mulutnya, tepat seperti dikatakan dalam ramalan  diatas,

“Dan Aku akan menaruh Firman-Ku dalam mulutnya.” ( Ulangan 18: 18)

Allah SWT berfirman,

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. ” (QS. An-Najm: 3-5)

Nabi Yang Ummi

Kisah Muhammad di dalam gua Hira, yang kemudian dikenal sebagai Jabal Nur dan reaksinya terhadap wahyu pertama, benar-benar memenuhi Nubuat Alkitab yang lain.

Nubuat Kitab Yesaya 29:12,

Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: “Baiklah baca ini,” maka ia akan menjawab: “Aku tidak dapat membaca.” (Yesaya 29:12)

Kisah Nabi Muhammad SAW

Malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad SAW dalam gua Hira seraya berkata, ‘Bacalah!’ Nabi Muhammad menjawab, ‘ saya tidak bisa membaca’, Malaikat berkata lalu memegang dan mendekap Nabi Muhammad SAW dan melepaskannya seraya berkata ‘Bacalah!’ Nabi Muhammad menjawab “Saya tidak bisa membaca.” Lalu Malaikat mendekap untuk kedua kalinya seraya berkata, ‘Bacalah!’ dan Nabi Muhammad SAW pun menjawab “Saya tidak bisa membaca.”

Selain Nabi Muhammad tidak bisa membaca, hal yang terpenting adalah pada zaman itu, yakni abad ke 6 Masehi, juga belum ada Alkitab yang berbahasa Arab. Jadi tidak ada seorang pun yang pernah mengajarinya dan memberitahunya tentang nubuat-nubuat yang ada dalam Alkitab tersebut.

Kristen Harus Masuk Islam

Semua pemaparan yang dilakukan oleh Ahmad Deedad di atas diakui kebenarannya oleh Dominee. Namun alih-alih menjadi mualaf, dia malah berkata,

“Semua penjelasan Anda terdengar sangat baik, tetapi itu semua tidak mempunyai konsekuensi yang nyata, karena kami umat Kristen memiliki Yesus Kristus sebagai reinkarnasi Tuhan yang menyelamatkan kami dari perbudakan dosa!”

Dominee seolah berkata bahwa semua itu tidak penting, tidak ada pengaruhnya kepada kami umat Kristen, dan tidak ada konsekuensi apa pun.

Pernyataan yang berbeda pernah dilontarkan oleh seorang pendeta dari Selandia Baru bernama Alex saat berdebat dengan KH. Abdullah Wasian (seorang kristolog asal Jawa-Timur yang pandai berbahasa Belanda) pada tanggal 31 Desember 1968 dengan tema yang sama. Pendeta ini berkata :

“Lalu mana yang menunjukkan bahwa orang Kristen harus masuk Islam?”

  1. Abdullah Wasian menjawab : Silahkan buka Ulangan 18:19 yang berbunyi:

“Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggung jawaban.”

Sungguh suatu jawaban yang luar biasa. Para pengikut Yesus yang setia dan mencari kebenaran serta tidak terpengaruh oleh doktrin-doktrin gereja, niscaya akan mengantarkannya kepada kebenaran sejati, yakni agama Islam. Semakin dalam Alkitab dipelajari, maka ia akan semakin dekat dengan agama Islam. Wallahua’lam

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *